Dalam kehilangan, mereka belajar membangun kembali. Resiliensi ini bukan sekadar kemampuan individual, melainkan hasil dari dukungan sosial yang terus mengalir di tengah penderitaan.
Fromm (1955) menegaskan bahwa keterhubungan dengan sesama adalah fondasi identitas yang sehat. Cinta, sebagaimana ia uraikan dalam The Art of Loving (1956), bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang melibatkan perhatian dan tanggung jawab.
Di pengungsian, cinta hadir dalam bentuk solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan. Keterhubungan ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengungsi dengan harapan baru. Identitas yang sempat retak perlahan dipulihkan melalui relasi yang penuh makna.
Pengalaman pengungsi Lewotobi mengingatkan kita bahwa rehabilitasi pascabencana tidak cukup berhenti pada pemulihan fisik. Aspek sosial dan emosional harus mendapat perhatian yang sama.
Krisis identitas dan keterasingan hanya dapat diatasi bila masyarakat dan lembaga hadir dengan dukungan yang berkelanjutan. Resiliensi memang lahir dari individu, tetapi ia tumbuh subur dalam komunitas yang saling menguatkan.
Di sinilah pesan Fromm menjadi relevan: cinta dan keterhubungan adalah kunci untuk membangun kembali kehidupan yang lebih tangguh, lebih manusiawi, dan lebih bermakna. *
Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah STIPAR Ende
Halaman : 1 2










