‘Ordinary Magic’ di Tanah Pengungsian (Membaca Lewotobi dengan Kacamata Fromm) - FloresPos Net - Page 2

‘Ordinary Magic’ di Tanah Pengungsian (Membaca Lewotobi dengan Kacamata Fromm)

- Jurnalis

Rabu, 12 November 2025 - 15:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam kehilangan, mereka belajar membangun kembali. Resiliensi ini bukan sekadar kemampuan individual, melainkan hasil dari dukungan sosial yang terus mengalir di tengah penderitaan.

Fromm (1955) menegaskan bahwa keterhubungan dengan sesama adalah fondasi identitas yang sehat. Cinta, sebagaimana ia uraikan dalam The Art of Loving (1956), bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang melibatkan perhatian dan tanggung jawab.

Baca Juga :  Krisis Kesehatan Mental Anak Pengungsi Erupsi Lewotobi Diabaikan: Pemda Flores Timur Harus Segera Ambil Tindakan Terukur

Di pengungsian, cinta hadir dalam bentuk solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan. Keterhubungan ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengungsi dengan harapan baru. Identitas yang sempat retak perlahan dipulihkan melalui relasi yang penuh makna.

Pengalaman pengungsi Lewotobi mengingatkan kita bahwa rehabilitasi pascabencana tidak cukup berhenti pada pemulihan fisik. Aspek sosial dan emosional harus mendapat perhatian yang sama.

Krisis identitas dan keterasingan hanya dapat diatasi bila masyarakat dan lembaga hadir dengan dukungan yang berkelanjutan. Resiliensi memang lahir dari individu, tetapi ia tumbuh subur dalam komunitas yang saling menguatkan.

Baca Juga :  Menjaga Kesucian Agama di Ruang Digital

Di sinilah pesan Fromm menjadi relevan: cinta dan keterhubungan adalah kunci untuk membangun kembali kehidupan yang lebih tangguh, lebih manusiawi, dan lebih bermakna. *

Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah STIPAR Ende

Berita Terkait

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Indonesia yang Sibuk, Tapi Kehilangan Kepedulian
Berita ini 144 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:14 WITA

Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA