Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi? - FloresPos Net

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Tambang Menjadi Perdebatan tentang Arah Peradaban

Oleh: Nurdin

WACANA kehadiran pertambangan di Pantai Utara Manggarai kembali memunculkan perdebatan yang hangat di tengah masyarakat.

Di satu sisi, pemerintah melihat pertambangan sebagai peluang investasi, sumber pendapatan daerah, serta jalan untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Di tengah keterbatasan kesempatan kerja dan tingginya angka migrasi tenaga kerja keluar daerah, argumen tersebut tentu tidak dapat diabaikan begitu saja.

Di sisi lain, Gereja Katolik melalui Keuskupan Ruteng secara tegas menyampaikan penolakan terhadap kehadiran tambang dengan pertimbangan ekologis, sosial, dan kemanusiaan.

Kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, hilangnya sumber air, rusaknya lahan pertanian, terganggunya ekosistem laut, hingga potensi konflik sosial merupakan pengalaman nyata yang telah terjadi di banyak wilayah pertambangan di Indonesia.

Baca Juga :  Korupsi dalam Pengelolaan Dana Desa: Menguak Modus dan Solusi

Kedua posisi tersebut sesungguhnya memiliki dasar argumentasi yang kuat. Masing-masing berpijak pada logika dan keprihatinan yang sah. Karena itu, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi apakah kita mendukung atau menolak tambang.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Model pembangunan seperti apa yang ingin dipilih oleh Pantai Utara Manggarai untuk lima puluh hingga seratus tahun ke depan? Apakah masa depan Reo akan dibangun dari laut yang selama berabad-abad telah memberi kehidupan? Ataukah dari perut bumi yang suatu hari pasti akan berhenti memberi?

Dua Jalan Pembangunan

Dalam ilmu ekonomi pembangunan, secara sederhana terdapat dua pendekatan besar yang sering dihadapi oleh daerah-daerah kaya sumber daya alam.

Baca Juga :  Menggandeng Ensiklik Laudato Si Dalam Upaya Menciptakan Masyarakat Bebas Korupsi

Yang pertama adalah ekonomi ekstraktif. Model ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti mineral dan hasil tambang lainnya. Keuntungannya relatif cepat terlihat dalam bentuk investasi, aktivitas ekonomi baru, pendapatan daerah, serta kesempatan kerja pada fase-fase tertentu.

Namun pengalaman di banyak daerah juga menunjukkan sisi lain dari model ini. Ketika cadangan habis, aktivitas ekonomi ikut menurun drastis. Sementara itu, kerusakan lingkungan yang ditinggalkan seringkali membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dipulihkan.

Tidak sedikit daerah pertambangan yang akhirnya mengalami apa yang oleh para ekonom disebut sebagai resource curse atau kutukan sumber daya, yakni kondisi ketika kekayaan alam justru tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Berita ini 269 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:23 WITA

Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:46 WITA

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Berita Terbaru