Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi? - FloresPos Net - Page 3

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padahal dari sisi geografis dan infrastruktur dasar, Pelabuhan Kedindi memiliki posisi yang sangat strategis. Pada Januari 2022, sebuah pemberitaan media nasional bahkan secara eksplisit menilai bahwa Pelabuhan Kedindi Reo layak menjadi pelabuhan ekspor terbesar kedua di Nusa Tenggara Timur. Penilaian ini bukan datang dari perbincangan warung kopi, melainkan dari pengamatan terhadap posisi strategis, potensi komoditas, dan infrastruktur dasar yang dimiliki pelabuhan ini.

Jika alasan yang sering disampaikan adalah persoalan kedalaman laut, masyarakat tentu berhak bertanya: Bagaimana mungkin kapal tanker Pertamina dengan bobot ribuan ton dapat bersandar secara rutin di Depot Pertamina Reo yang berada tepat di sebelah Pelabuhan Kedindi, sementara kapal penumpang komersial dianggap tidak memungkinkan untuk masuk?

Pertanyaan tersebut tentu membutuhkan jawaban teknis dari pihak yang berwenang. Namun lebih dari itu, ia membutuhkan keberanian politik untuk memperjuangkannya. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar dermaga, melainkan arah masa depan ekonomi Pantai Utara Manggarai.

Baca Juga :  Dampak Teknologi Baru terhadap Pekerjaan Jurnalistik dan Pentingnya Kebebasan Pers

Pelabuhan yang Hidup Adalah Mesin Pertumbuhan

Pelabuhan bukan sekadar tempat kapal bersandar. Pelabuhan adalah pintu masuk peradaban ekonomi.

Setiap kapal penumpang yang datang membawa lebih dari sekadar manusia. Ia membawa konsumsi. Ia membawa perdagangan. Ia membawa logistik. Ia membawa investasi. Ia membawa wisatawan. Ia membawa peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.

Jika kapal penumpang komersial reguler dapat bersandar di Pelabuhan Kedindi, maka dampaknya akan menjalar ke berbagai sektor sekaligus. Hotel dan penginapan akan tumbuh untuk menampung penumpang transit maupun wisatawan yang mulai melirik Reo. Rumah makan akan berkembang melayani arus penumpang yang datang dan pergi. Transportasi lokal, mulai dari ojek hingga angkutan umum, akan bergerak lebih dinamis. UMKM lokal memperoleh pasar baru yang sebelumnya tidak terjangkau.

Nelayan memperoleh akses distribusi yang lebih baik untuk hasil tangkapan mereka. Petani dari pedalaman Manggarai memiliki peluang mengirim produk pertanian ke pasar yang lebih luas tanpa harus menanggung biaya logistik yang mencekik.

Baca Juga :  Korupsi sebagai Musuh Bersama

Efek pengganda ekonomi maritim seperti ini jauh lebih menyebar dan melibatkan lebih banyak masyarakat dibandingkan model ekonomi yang bertumpu pada ekstraksi sumber daya. Uang yang berputar tidak terkonsentrasi di tangan segelintir pemilik modal, melainkan menyebar ke warung-warung kecil, penginapan sederhana, koperasi desa, hingga buruh pelabuhan.

Dan yang paling penting, semua itu dapat berlangsung tanpa harus mengorbankan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Tanpa harus menggali bukit, tanpa harus mencemari laut, tanpa harus menggusur masyarakat dari tanah leluhurnya.

Gereja dan Tanggung Jawab Sejarahnya

Dalam polemik tambang di Manggarai, Gereja Katolik menjadi salah satu institusi yang paling konsisten menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan ciptaan.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Berita ini 284 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Berita Terbaru

Feature

Jempolmu, Ikrarmu: Sumpah Pemuda di Era Hoaks dan AI

Selasa, 20 Okt 2026 - 20:51 WITA

Nusa Bunga

Hasil Pengeboran BWS, Ditemukan Empat Titik Mata Air di Pulau Palue

Selasa, 20 Okt 2026 - 20:45 WITA

Nusa Bunga

PKB Target Rebut Kursi Pimpinan DPRD Ende di Pileg 2029

Selasa, 20 Okt 2026 - 19:47 WITA

Perayaan syukur tahbisan imamat RP. Fransiskus Carli Kau, SVD di Paroki St Fransiskus dan St Clara Aimere pada Jumat (16/10/2026).

Nusa Bunga

Bupati Ngada Sebut Gereja Mitra Strategis Pemda

Selasa, 20 Okt 2026 - 17:45 WITA