Pendapatan daerah memang meningkat, tetapi kemiskinan struktural tetap bertahan, ketimpangan melebar, dan modal alam yang seharusnya bisa menjadi warisan lintas generasi lenyap dalam waktu singkat.
Model kedua adalah ekonomi regeneratif atau ekonomi berkelanjutan. Ekonomi ini bertumpu pada sektor-sektor yang dapat terus diperbaharui seperti pertanian, perikanan, perdagangan, jasa, pariwisata, dan ekonomi maritim. Keuntungannya mungkin tidak sebesar tambang dalam jangka pendek, tetapi manfaatnya dapat berlangsung lintas generasi apabila dikelola dengan baik, terencana, dan didukung oleh kebijakan publik yang serius.
Pertanyaan pentingnya adalah: Di antara dua pilihan tersebut, di manakah posisi Reo sesungguhnya? Dan yang lebih penting lagi, ke arah manakah kita ingin membawa Reo dalam rentang sejarah yang lebih panjang?
Reo Dilahirkan oleh Laut
Sebelum jalan raya lintas Flores berkembang seperti sekarang, Reo telah lebih dahulu hidup dari laut.
Pelabuhan Reo pernah menjadi salah satu simpul perdagangan penting di wilayah barat Pulau Flores. Dari pelabuhan inilah manusia, barang, hasil bumi, serta berbagai komoditas bergerak keluar masuk Manggarai. Kapal-kapal dagang dari Makassar, Surabaya, hingga Kalimantan singgah secara reguler, menjadikan Reo sebagai pintu gerbang peradaban di pesisir utara Flores.
Laut bukanlah halaman belakang bagi masyarakat Reo. Laut adalah halaman depan peradaban mereka. Laut adalah sumber kehidupan, jalur mobilitas, dan ruang ekonomi yang telah menghidupi masyarakat selama berabad-abad.
Sayangnya, posisi strategis tersebut perlahan memudar seiring berubahnya orientasi pembangunan ke arah daratan. Jalan raya, pusat pemerintahan, dan pusat ekonomi baru tumbuh di tempat lain. Reo perlahan-lahan menjadi kota yang dilewati, bukan kota yang dituju.
Hari ini, masyarakat Pantai Utara Manggarai yang ingin menggunakan kapal penumpang komersial masih harus menempuh perjalanan panjang menuju Labuan Bajo. Padahal kebutuhan masyarakat terhadap transportasi laut sesungguhnya sangat besar.
Ribuan warga Manggarai yang bekerja di Makassar, Kalimantan, Surabaya, hingga berbagai wilayah Indonesia Timur masih sangat bergantung pada transportasi laut sebagai sarana mobilitas utama, baik untuk pulang kampung maupun membawa hasil usaha mereka ke perantauan.
Ironisnya, Pelabuhan Kedindi Reo hingga hari ini hanya disinggahi kapal-kapal perintis bersubsidi seperti Sabuk Nusantara 49, KM Maloli, dan kapal-kapal sejenis lainnya. Kapal-kapal ini melayani rute dengan kapasitas terbatas dan jadwal yang tidak selalu mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pemandangan penumpang yang berdesakan di dek kapal, tidur di sela-sela barang bawaan, adalah potret buram dari ketiadaan layanan transportasi yang memadai.
Editor : Wall Abulat










