Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi? - FloresPos Net - Page 2

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendapatan daerah memang meningkat, tetapi kemiskinan struktural tetap bertahan, ketimpangan melebar, dan modal alam yang seharusnya bisa menjadi warisan lintas generasi lenyap dalam waktu singkat.

Model kedua adalah ekonomi regeneratif atau ekonomi berkelanjutan. Ekonomi ini bertumpu pada sektor-sektor yang dapat terus diperbaharui seperti pertanian, perikanan, perdagangan, jasa, pariwisata, dan ekonomi maritim. Keuntungannya mungkin tidak sebesar tambang dalam jangka pendek, tetapi manfaatnya dapat berlangsung lintas generasi apabila dikelola dengan baik, terencana, dan didukung oleh kebijakan publik yang serius.

Pertanyaan pentingnya adalah: Di antara dua pilihan tersebut, di manakah posisi Reo sesungguhnya? Dan yang lebih penting lagi, ke arah manakah kita ingin membawa Reo dalam rentang sejarah yang lebih panjang?

Reo Dilahirkan oleh Laut

Sebelum jalan raya lintas Flores berkembang seperti sekarang, Reo telah lebih dahulu hidup dari laut.

Baca Juga :  Menemukan Keseimbangan Dalam Budaya Moderen

Pelabuhan Reo pernah menjadi salah satu simpul perdagangan penting di wilayah barat Pulau Flores. Dari pelabuhan inilah manusia, barang, hasil bumi, serta berbagai komoditas bergerak keluar masuk Manggarai. Kapal-kapal dagang dari Makassar, Surabaya, hingga Kalimantan singgah secara reguler, menjadikan Reo sebagai pintu gerbang peradaban di pesisir utara Flores.

Laut bukanlah halaman belakang bagi masyarakat Reo. Laut adalah halaman depan peradaban mereka. Laut adalah sumber kehidupan, jalur mobilitas, dan ruang ekonomi yang telah menghidupi masyarakat selama berabad-abad.

Sayangnya, posisi strategis tersebut perlahan memudar seiring berubahnya orientasi pembangunan ke arah daratan. Jalan raya, pusat pemerintahan, dan pusat ekonomi baru tumbuh di tempat lain. Reo perlahan-lahan menjadi kota yang dilewati, bukan kota yang dituju.

Hari ini, masyarakat Pantai Utara Manggarai yang ingin menggunakan kapal penumpang komersial masih harus menempuh perjalanan panjang menuju Labuan Bajo. Padahal kebutuhan masyarakat terhadap transportasi laut sesungguhnya sangat besar.

Baca Juga :  Politik Cinta: Bagaimana Empati Bisa Mengubah Lanskap Politik Kita

Ribuan warga Manggarai yang bekerja di Makassar, Kalimantan, Surabaya, hingga berbagai wilayah Indonesia Timur masih sangat bergantung pada transportasi laut sebagai sarana mobilitas utama, baik untuk pulang kampung maupun membawa hasil usaha mereka ke perantauan.

Ironisnya, Pelabuhan Kedindi Reo hingga hari ini hanya disinggahi kapal-kapal perintis bersubsidi seperti Sabuk Nusantara 49, KM Maloli, dan kapal-kapal sejenis lainnya. Kapal-kapal ini melayani rute dengan kapasitas terbatas dan jadwal yang tidak selalu mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pemandangan penumpang yang berdesakan di dek kapal, tidur di sela-sela barang bawaan, adalah potret buram dari ketiadaan layanan transportasi yang memadai.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Berita ini 284 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Berita Terbaru

Feature

Jempolmu, Ikrarmu: Sumpah Pemuda di Era Hoaks dan AI

Selasa, 20 Okt 2026 - 20:51 WITA

Nusa Bunga

Hasil Pengeboran BWS, Ditemukan Empat Titik Mata Air di Pulau Palue

Selasa, 20 Okt 2026 - 20:45 WITA

Nusa Bunga

PKB Target Rebut Kursi Pimpinan DPRD Ende di Pileg 2029

Selasa, 20 Okt 2026 - 19:47 WITA

Perayaan syukur tahbisan imamat RP. Fransiskus Carli Kau, SVD di Paroki St Fransiskus dan St Clara Aimere pada Jumat (16/10/2026).

Nusa Bunga

Bupati Ngada Sebut Gereja Mitra Strategis Pemda

Selasa, 20 Okt 2026 - 17:45 WITA