Sikap tersebut tentu memiliki dasar moral dan teologis yang kuat. Sejak ensiklik Laudato Si’ dikumandangkan oleh Paus Fransiskus, Gereja universal telah menegaskan bahwa kerusakan lingkungan adalah persoalan iman, bukan sekadar persoalan teknis atau ekonomi. Merusak bumi adalah dosa terhadap Sang Pencipta dan terhadap sesama ciptaan.
Dalam konteks Manggarai, suara profetik ini menemukan relevansinya yang mendesak. Dalam buku Gereja Itu Politis: Dari Manggarai-Flores untuk Indonesia yang dieditori oleh Rikard Rahmat, khususnya dalam tulisan “Tragedi Pertambangan dan Gereja yang Aksional”, Bernadinus Steni mengingatkan bahwa Gereja tidak cukup hanya hadir sebagai pengamat moral yang berhenti pada pernyataan sikap.
Gereja perlu menjadi kekuatan sosial yang aktif mengorganisir masyarakat, memperjuangkan keadilan ekologis, serta terlibat dalam ruang-ruang advokasi kebijakan publik. Gereja harus turun ke arena politik dan ekonomi, bukan hanya berdiri di mimbar.
Gagasan tersebut sangat relevan dengan konteks Pantura Manggarai hari ini. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan jawaban mengenai mengapa tambang harus ditolak.
Masyarakat juga membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang jauh lebih sederhana namun lebih mendesak: Jika bukan tambang, lalu apa? Jika bukan pertambangan, dari mana lapangan kerja baru akan lahir? Dari mana anak-anak muda Reo akan mencari nafkah dan membangun masa depan mereka?
Di sinilah Gereja memiliki kesempatan untuk memperluas perannya. Tidak hanya sebagai penjaga moral yang mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang dianggap merusak, tetapi juga sebagai penggerak sosial yang mengatakan “ya” terhadap alternatif pembangunan yang memberi harapan.
Menolak tambang adalah tindakan moral. Tetapi memperjuangkan alternatif ekonomi bagi masyarakat adalah tindakan pastoral yang tidak kalah penting. Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama: tanggung jawab terhadap ciptaan dan tanggung jawab terhadap sesama.
Reo dan Hutang Sejarah Gereja Manggarai
Ada alasan mengapa harapan masyarakat terhadap Gereja begitu besar dalam perdebatan ini.
Sebab sejarah Gereja Manggarai sendiri memiliki hubungan yang sangat erat dengan Reo. Tradisi sejarah Gereja Katolik Manggarai mencatat bahwa salah satu baptisan awal umat Katolik Manggarai berlangsung di wilayah Jengkalang, Reo, lebih dari satu abad yang lalu. Di pesisir inilah benih-benih iman Katolik pertama kali disemai dan dibaptiskan, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Manggarai Raya.
Dengan kata lain, Pantai Utara Manggarai bukanlah wilayah pinggiran dalam sejarah Gereja Manggarai. Wilayah ini justru merupakan salah satu rahim awal pertumbuhan iman Katolik di tanah Manggarai. Reo adalah tanah sejarah, bukan sekadar titik geografis di peta.
Editor : Wall Abulat










