Karena itu, apabila hari ini Gereja berdiri paling depan dalam menjaga gunung, hutan, mata air, dan laut Pantura Manggarai dari ancaman kerusakan ekologis, maka mungkin sudah saatnya Gereja juga berdiri paling depan memperjuangkan masa depan ekonomi wilayah yang ikut melahirkan sejarahnya sendiri. Ini bukan sekadar soal solidaritas, melainkan soal menuntaskan hutang sejarah yang telah dimulai lebih dari seabad yang lalu.
Bayangkan apabila energi advokasi yang selama ini digunakan untuk menolak tambang juga diarahkan untuk memperjuangkan pembukaan jalur kapal penumpang komersial menuju Pelabuhan Kedindi Reo.
Bayangkan apabila Gereja bersama pemerintah daerah, masyarakat sipil, pelaku usaha, diaspora Manggarai, dan pemerintah pusat duduk bersama menyusun peta jalan ekonomi maritim Pantura Manggarai.
Bayangkan apabila lahan-lahan Gereja di sekitar Reo dimanfaatkan untuk pusat distribusi hasil pertanian dan perikanan, sekolah-sekolah Katolik memasukkan keterampilan maritim ke dalam kurikulum muatan lokal, dan koperasi kredit paroki memberikan pinjaman lunak untuk modal usaha masyarakat pesisir.
Mungkin itulah bentuk paling konkret dari apa yang disebut sebagai Gereja yang aksional. Gereja yang tidak hanya bersuara, tetapi juga bertindak. Gereja yang tidak hanya menolak, tetapi juga membangun.
Bukan Memilih antara Lingkungan atau Pembangunan
Seringkali perdebatan tentang tambang menempatkan masyarakat pada pilihan yang seolah-olah saling meniadakan: lingkungan atau pembangunan, ekonomi atau ekologi, pekerjaan atau kelestarian alam.
Padahal sesungguhnya dikotomi itu tidak harus terjadi. Dikotomi itu adalah jebakan retoris yang mempersempit ruang imajinasi kita tentang masa depan.
Yang dibutuhkan bukan memilih antara lingkungan atau kesejahteraan. Yang dibutuhkan adalah memilih model pembangunan yang mampu menghadirkan keduanya sekaligus. Model pembangunan yang menciptakan lapangan kerja tanpa harus mengorbankan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Model pembangunan yang menumbuhkan ekonomi lokal tanpa harus meninggalkan warisan kerusakan lingkungan bagi anak cucu kita.
Mungkin masa depan Reo tidak berada pada pilihan antara menolak tambang atau menerima tambang. Mungkin masa depan itu berada pada keberanian untuk memperjuangkan pilihan ketiga: membangun ekonomi maritim yang kuat, berkelanjutan, dan berpihak kepada masyarakat lokal.
Pilihan ketiga ini memang tidak mudah. Ia membutuhkan perencanaan yang matang, investasi yang tidak sedikit, advokasi kebijakan yang gigih, dan koalisi yang luas antara pemerintah, Gereja, masyarakat sipil, dan sektor swasta. Tetapi inilah pilihan yang paling masuk akal jika kita berbicara tentang masa depan dalam rentang waktu seratus tahun, bukan sekadar dua puluh atau tiga puluh tahun.
Penutup: Laut atau Perut Bumi?
Pada akhirnya, sejarah akan mengingat generasi ini bukan karena berapa ton mineral yang berhasil kita keluarkan dari dalam tanah.
Editor : Wall Abulat










