Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi? - FloresPos Net - Page 5

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karena itu, apabila hari ini Gereja berdiri paling depan dalam menjaga gunung, hutan, mata air, dan laut Pantura Manggarai dari ancaman kerusakan ekologis, maka mungkin sudah saatnya Gereja juga berdiri paling depan memperjuangkan masa depan ekonomi wilayah yang ikut melahirkan sejarahnya sendiri. Ini bukan sekadar soal solidaritas, melainkan soal menuntaskan hutang sejarah yang telah dimulai lebih dari seabad yang lalu.

Bayangkan apabila energi advokasi yang selama ini digunakan untuk menolak tambang juga diarahkan untuk memperjuangkan pembukaan jalur kapal penumpang komersial menuju Pelabuhan Kedindi Reo.

Bayangkan apabila Gereja bersama pemerintah daerah, masyarakat sipil, pelaku usaha, diaspora Manggarai, dan pemerintah pusat duduk bersama menyusun peta jalan ekonomi maritim Pantura Manggarai.

Bayangkan apabila lahan-lahan Gereja di sekitar Reo dimanfaatkan untuk pusat distribusi hasil pertanian dan perikanan, sekolah-sekolah Katolik memasukkan keterampilan maritim ke dalam kurikulum muatan lokal, dan koperasi kredit paroki memberikan pinjaman lunak untuk modal usaha masyarakat pesisir.

Baca Juga :  Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Mungkin itulah bentuk paling konkret dari apa yang disebut sebagai Gereja yang aksional. Gereja yang tidak hanya bersuara, tetapi juga bertindak. Gereja yang tidak hanya menolak, tetapi juga membangun.

Bukan Memilih antara Lingkungan atau Pembangunan

Seringkali perdebatan tentang tambang menempatkan masyarakat pada pilihan yang seolah-olah saling meniadakan: lingkungan atau pembangunan, ekonomi atau ekologi, pekerjaan atau kelestarian alam.

Padahal sesungguhnya dikotomi itu tidak harus terjadi. Dikotomi itu adalah jebakan retoris yang mempersempit ruang imajinasi kita tentang masa depan.

Yang dibutuhkan bukan memilih antara lingkungan atau kesejahteraan. Yang dibutuhkan adalah memilih model pembangunan yang mampu menghadirkan keduanya sekaligus. Model pembangunan yang menciptakan lapangan kerja tanpa harus mengorbankan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Model pembangunan yang menumbuhkan ekonomi lokal tanpa harus meninggalkan warisan kerusakan lingkungan bagi anak cucu kita.

Baca Juga :  Retret Kepemimpinan, Etika Politik dan Sensitivitas Publik

Mungkin masa depan Reo tidak berada pada pilihan antara menolak tambang atau menerima tambang. Mungkin masa depan itu berada pada keberanian untuk memperjuangkan pilihan ketiga: membangun ekonomi maritim yang kuat, berkelanjutan, dan berpihak kepada masyarakat lokal.

Pilihan ketiga ini memang tidak mudah. Ia membutuhkan perencanaan yang matang, investasi yang tidak sedikit, advokasi kebijakan yang gigih, dan koalisi yang luas antara pemerintah, Gereja, masyarakat sipil, dan sektor swasta. Tetapi inilah pilihan yang paling masuk akal jika kita berbicara tentang masa depan dalam rentang waktu seratus tahun, bukan sekadar dua puluh atau tiga puluh tahun.

Penutup: Laut atau Perut Bumi?

Pada akhirnya, sejarah akan mengingat generasi ini bukan karena berapa ton mineral yang berhasil kita keluarkan dari dalam tanah.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Berita ini 284 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Berita Terbaru

Nusa Bunga

570 PPPK Paruh Waktu di Ngada Terima SK Perpanjangan

Senin, 19 Okt 2026 - 18:05 WITA

Nusa Bunga

PSN Ngada Resmi Berangkat Menuju Liga 3 Nusantara

Senin, 19 Okt 2026 - 16:44 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA