Sejarah akan mengingat kita dari pilihan pembangunan seperti apa yang kita wariskan kepada anak cucu kita.
Apakah kita ingin meninggalkan bukit-bukit yang kehilangan tutupan hutannya, sungai-sungai yang tercemar limbah, dan pesisir yang kehilangan ikannya? Ataukah kita ingin meninggalkan pelabuhan yang ramai, laut yang sehat, dan ekonomi pesisir yang hidup dan berdenyut?
Pertanyaan itu kini berada di hadapan masyarakat Pantai Utara Manggarai. Bukan hanya di hadapan pemerintah dan pemangku kebijakan, tetapi juga di hadapan setiap warga yang mencintai tanah kelahirannya. Dan di hadapan Gereja yang memiliki tanggung jawab sejarah terhadap wilayah yang pernah menjadi rahim awal pertumbuhan iman Katolik Manggarai.
Mungkin jawaban atas pertanyaan itu tidak perlu dicari terlalu jauh. Mungkin jawaban itu telah lama terhampar di depan mata kita sendiri. Di laut yang selama berabad-abad telah membesarkan Reo.
Di Pelabuhan Kedindi yang menunggu untuk dihidupkan kembali. Dan pada keberanian kita untuk memperjuangkannya bersama, dalam koalisi yang luas, dengan visi yang jauh melampaui satu periode pemerintahan.
Pilihan ada di tangan kita sekarang. Membangun dari laut yang terus memberi kehidupan, atau menggali dari perut bumi yang suatu hari pasti berhenti memberi. *
Editor : Wall Abulat










