Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
HARI Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli. Ia bukan sekadar seremoni tahunan. Bukan pula rutinitas yang terus berulang.
Di balik perayaannya, ada makna yang lebih dalam. Sering kali makna itu luput dari perhatian. Anak-anak bukan hanya pelengkap dunia dewasa. Mereka adalah amanah ilahi. Titipan suci yang menggambarkan masa depan bangsa. Dalam perspektif sosiologi agama, anak adalah pewaris nilai dan iman.
Di momen peringatan ini, bolehlah kita berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah kita memperlakukan anak-anak sebagai cahaya kehidupan dan bukan sekadar penghias data statistikal?
Dalam tradisi keagamaan yang berakar kuat di Nusantara, anak senantiasa dipandang sebagai berkah dan lambang harapan. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan berbagai kepercayaan lokal menempatkan anak dalam posisi sakral sebagai manifestasi kasih Tuhan, benih peradaban, dan penjaga kelestarian nilai-nilai luhur.
Namun, dalam kenyataan sosiologis yang berlangsung di Indonesia dewasa ini, anak-anak justru kerap menjadi korban dari sistem yang rapuh: eksploitasi anak, pernikahan dini, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kelalaian struktural dalam pendidikan dan layanan kesehatan.
Dalam kenyataan sosial Indonesia hari ini, anak-anak kerap menjadi korban dari sistem yang tak ramah jiwa. Di pasar-pasar tradisional, tambang rakyat, dan industri rumah tangga, mereka bekerja di usia belia, menggantikan jam bermain dengan beban ekonomi keluarga yang tak mereka pilih.
Di wilayah-wilayah tertentu, anak perempuan dinikahkan sebelum waktunya, diputus dari mimpi, pendidikan, dan tubuhnya sendiri yang belum siap.
Sementara itu, anak-anak di wilayah 3T tumbuh dalam keterbatasan pendidikan dan minimnya layanan kesehatan, tak pernah mengenal imunisasi penuh atau ruang belajar yang layak. Dalam sunyi dan ketertinggalan, masa kanak-kanak mereka tercuri.
Realitas ini adalah panggilan nurani bahwa perlindungan terhadap anak bukan sekadar urusan hukum, melainkan komitmen spiritual masyarakat yang bertanggung jawab untuk memanusiakan mereka sepenuhnya.
Paradoks ini memperlihatkan jurang antara visi spiritual dan kenyataan sosial. Anak yang seharusnya dipandang sebagai subjek pewahyuan Tuhan yang memperlihatkan kasih, kejujuran, dan keindahan jiwa manusia malah diperlakukan sebagai objek dalam proyek politik dan ekonomi. Kebijakan sering dibuat untuk anak, tapi jarang melibatkan suara anak.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










