MBAY, FLORESPOS.net-Saat bumi bergetar hebat pada Sabtu (15/8/2026) lalu, sebagian orang berlari keluar menyelamatkan diri. Tapi ada juga yang berlari masuk. Salah satunya Bergita Diung, S.Kep.Ns, Kepala Ruangan IGD RSUD Aeramo.
Di tengah kepanikan, ia tidak hanya menjadi tenaga medis. Ia juga menjadi korban. Rumahnya retak, keluarganya panik. Tapi panggilan tugas membuatnya tetap bertahan di ruang IGD yang penuh pasien.
“Kami tetap melayani dengan penuh dedikasi,” kata Bergita dengan suara bergetar namun tegas saat ditemui di sela kesibukannya, Rabu (19/8/2026).
Detik-Detik Gempa: Dari Korban Menjadi Penolong
Pukul 05.57 WITA, gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nagekeo. Bergita saat itu sedang piket di IGD. Lampu padam, pasien berteriak, infus goyang, dan sebagian plafon mulai retak.
“Pasien panik, keluarga pasien juga panik. Kami teriak ‘tenang, jangan lari’. Sambil merangkak kami amankan pasien-pasien yang tidak bisa jalan,” kenangnya.
Yang membuat kisah ini lebih berat saat itu Bergita baru mendapat kabar dari rumah. Dinding rumahnya retak, atapnya goyang. Anak dan orang tuanya mengungsi.
“Saya juga korban. Tapi saya lihat di depan saya ada pasien stroke, ada anak kecil luka, ada ibu hamil. Kalau saya ikut lari, siapa yang jaga mereka?,” ujarnya.
Ia memilih melepas statusnya sebagai korban, dan kembali menjadi perawat.
IGD Berubah Jadi Tenda Darurat
Dalam hitungan menit, IGD RSUD Aeramo penuh sesak. Pasien trauma, luka robek, patah tulang, sesak napas karena debu, hingga serangan panik berdatangan. Listrik padam. Alat seadanya. Dengan lampu senter HP dan tenaga dari genset, tim IGD bekerja tanpa henti selama 36 jam pertama.
“Kami dirikan tenda di halaman. Pasien kami geser keluar. Yang gawat darurat tetap di dalam. Yang bisa jalan kami minta bantu sesama. Itu gotong royong,” cerita Bergita.
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 Selanjutnya










