Sebagai Kepala Ruangan, ia mengatur pembagian tim, memastikan stok obat, sekaligus menenangkan keluarga pasien yang histeris.
“Ada bapak-bapak nangis karena rumahnya roboh. Saya peluk, saya bilang ‘Bapak kuat ya, kita sama-sama korban, tapi kita harus sembuhkan yang luka dulu’.”
Dedikasi yang Tidak Ditulis di SK
Bergita mengaku tidak sempat pulang 3 hari pertama. Tidur di kursi roda, makan roti dari bantuan, mandi pakai air galon.
“Kami tenaga kesehatan. Sumpah kami bukan cuma di kertas. Saat bencana, sumpah itu diuji. Dan kami pilih tetap tinggal,” katanya.
Ia juga mengapresiasi timnya. Perawat, dokter jaga, cleaning service, bahkan sopir ambulans ikut angkat pasien dan distribusi bantuan.
“Yang bikin saya kuat itu lihat teman-teman. Tidak ada yang mengeluh. Semua bilang ‘Kak, kita lanjut’. Itu yang bikin saya nangis.” *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










