ENDE, FLORESPOS.net-Di tengah duka yang masih menyelimuti Pulau Flores pasca bencana gempa bumi, sebuah momen mengharukan sekaligus inspiratif terekam kamera dan menyentuh hati banyak pihak.
Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, tertangkap kamera berlutut di tanah berumput di bawah tenda darurat, berinteraksi langsung dan berdoa bersama para korban selamat.
Kehadiran Mgr. Paul Budi Kleden di lokasi pengungsian bukan sekadar kunjungan formalitas seorang pejabat gereja. Tindakan beliau yang berlutut di tengah-tengah para korban menjadi simbol kerendahan hati yang mendalam, sekaligus penegasan bahwa kemanusiaan dan empati berada di atas segalanya dalam situasi krisis.
“Beliau datang langsung menemui kami, mendengarkan keluh kesah kami, dan memberikan penguatan rohani. Momen saat beliau berlutut di tanah itu sangat menyentuh hati. Kami merasa tidak sendiri,” ujar salah seorang warga di tenda pengungsian, yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pesan kuat yang disampaikan melalui aksi Uskup Agung Ende ini adalah mengenai pentingnya menembus sekat-sekat perbedaan. Di tengah kepedihan, tidak ada lagi perbedaan agama, suku, status sosial, atau latar belakang. Yang ada hanyalah sesama manusia yang saling membutuhkan dan menguatkan.
Bencana tidak memilih korban berdasarkan latar belakang, dan karena itu, empati dan kepedulian juga tidak boleh memilih kepada siapa kita harus membantu.
Foto yang viral menunjukkan Uskup Agung Ende mengenakan pakaian sederhana, bercakap-cakap dengan warga, termasuk anak-anak dan lansia, yang sedang beristirahat di bawah tenda oranye darurat.
Beberapa warga yang dikunjungi juga terlihat mengenakan jilbab, menonjolkan keberagaman dan semangat toleransi lintas iman yang kuat di Flores. Kebutuhan para pengungsi saat ini, selain bantuan material, adalah perhatian, kehadiran, doa, dan rasa persaudaraan yang tulus.
Flores, yang dikenal sebagai rumah bagi keberagaman, membuktikan bahwa dalam situasi bencana, perbedaan justru menjadi kekuatan untuk saling menopang. Persaudaraan sejati jauh lebih besar daripada sekat-sekat perbedaan yang selama ini mungkin ada.
“Flores tidak akan bangkit hanya dengan satu tangan. Flores bangkit ketika semua tangan saling menggenggam, ketika semua hati saling peduli, dan ketika kemanusiaan menjadi bahasa kita bersama,” demikian kutipan pesan moral yang mengiringi momen tersebut.
Seruan “Kami Flores. Kami satu. Tanpa sekat” menggema, mengajak semua pihak yang memiliki kelebihan untuk membantu yang kekurangan, dan yang kuat untuk menguatkan yang lemah.
Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak, serta bantuan terus berdatangan untuk pemulihan Flores. *
Penulis : Milikior Sobe (Kontributor)
Editor : Wall Abulat










