MBAY, FLORESPOS.net-Tiga hari pascagempa 7,7 magnitudo, warga di Kelurahan Towak dan Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai diliputi kepanikan.
Bukan karena gempa susulan, tetapi karena stok makanan semakin menipis, laporan jurnalis Florespos.net Arkadius Togo dari Desa Aeramo, Nagekeo.
Aktivitas warga saat ini lumpuh total. Pasar tutup, kebun tidak digarap, dan semua orang bertahan di tenda pengungsian.
“Kami mau mati pak. Stok makanan susah hampir habis,” ujar Simon Sue, warga terdampak saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (17/8/2026).
Menurut Simon, hingga saat ini warga sudah tidak lagi beraktivitas seperti biasa. Semua fokus mencari tempat aman dan menunggu bantuan.
“Sementara stok makanan semakin berkurang. Beras di rumah sudah habis. Yang ada hanya singkong sedikit,” katanya dengan nada cemas.
Ia berharap kepada pemerintah segera menurunkan bantuan agar bisa menambah stok makan warga.
“Jika tidak, masyarakat mati bukan karena ditindis reruntuhan tapi karena mati kelaparan,” tegasnya.
Senada disampaikan Forus Bongo, warga Desa Aeramo. Ia mengaku saat ini bahan makanan di rumahnya tinggal sedikit.
“Sementara bantuan dari pemerintah tidak ada sama sekali,” ujarnya lirih.
Warga berharap ada penyaluran beras, mie instan, air bersih, lauk pauk, dan kebutuhan bayi serta lansia dalam waktu dekat.
Sementara Asisten Administrasi Umum Setda Nagekeo Silvester Teda mengatakan bahwa saat ini pihak Pemerintah Kabupaten Nagekeo berupaya untuk segera memberikan bantuan.
“Kita sementara dan sedang membawa bantuan ke setiap posko-posko yang ada,” ujarnya. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










