Oleh: Anselmus DW Atasoge
HARI INI, di bawah langit biru Nusantara yang sama seperti delapan puluh satu tahun silam, kita berdiri bersama. Namun dengan hati yang berbeda.
Bukan semata dada yang penuh syukur, melainkan juga mata yang masih basah oleh debu reruntuhan, tangan yang masih menggenggam puing-puing rumah, dan jiwa yang masih bergetar oleh guncangan yang merobek tanah Flores tercinta.
Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, ketika sebagian besar masih terlelap, bumi di lepas pantai utara Flores pecah oleh suara. Gempa bermagnitudo 7,7 yang dangkal itu mengguncang dari Mbay di Nagekeo hingga pesisir Ende, dari perbukitan Manggarai hingga tepi laut Sikka.
Peringatan tsunami ‘mengusir’ warga berlarian menuju perbukitan. Gelombang menyentuh pantai Maurole dan Labuan Bajo. Ratusan gempa susulan membuat cemas terus berdenyut di dada para ibu yang mendekap anak-anaknya.
Puluhan saudara kita berpulang. Banyak di antaranya saat sedang tidur, tertimpa reruntuhan rumah yang selama ini menaungi mereka. Ribuan warga mengungsi, meninggalkan rumah, kenangan, dan separuh hidup yang tertimbun.
Namun di bawah langit yang sama, di tengah derita yang sama, bendera Merah Putih pagi ini tetap dikibarkan. Dan, di tengah derita inilah kita dipanggil untuk memaknai kemerdekaan sekali lagi.
Kemerdekaan bukanlah titik akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan yang lebih dalam dan lebih luas. Ia tidak terbatas pada peristiwa sejarah, tetapi denyut nadi yang terus hidup dalam kerja, dalam solidaritas, dalam keberanian untuk berubah.
Di sebagian kabupaten di Flores, kemerdekaan tidak dirayakan di lapangan upacara yang rapi, melainkan di tanah yang retak, di tenda-tenda pengungsian, di dapur-dapur umum, di tangan para penyelamat yang menggali reruntuhan.
Ia adalah pintu gerbang menuju masa depan yang harus kita bangun kembali bersama. Masa depan yang menuntut kita untuk tidak hanya melangkah, melainkan bangkit dengan tegap dari reruntuhan.
Flores, pulau yang kita cintai, pulau yang diberkati dengan budaya luhur dan semangat tak kenal lelah, dari Manggarai hingga Sikka, dari Nagekeo hingga Ende, kini berdiri di antara puing dan harapan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










