Merayakan 17 Agustus di tengah derita gempa bukanlah perayaan yang hampa. Ia adalah pernyataan sikap. Bahwasanya, kita menolak untuk kalah, bahwa kita memilih untuk bangkit, bahwa kemerdekaan bukan berarti bebas dari penderitaan, tetapi bebas untuk menentukan bagaimana kita menjawab penderitaan itu.
Mari kita jadikan peringatan tahun ini bukan hanya seremoni di tengah tenda pengungsian, tetapi momentum. Momentum untuk bangkit bersama, lebih kuat, lebih adil, lebih bermakna. Bukan dari kenyamanan, melainkan dari reruntuhan. Bukan dari kelimpahan, melainkan dari kekurangan. Bukan dari kekuatan, melainkan dari keberanian untuk tetap berharap ketika segalanya tampak runtuh.
Flores tidak boleh berhenti oleh gempa. Kita harus bangkit. Dan kebangkitan itu dimulai dari hati yang percaya bahwa pulau ini akan pulih, tangan yang bekerja meski masih gemetar, dan jiwa yang bersatu dalam solidaritas yang tidak bisa diruntuhkan oleh gempa mana pun.
Kepada mereka yang kehilangan rumah, kemerdekaan ini milik kalian, dan kami akan membangunnya kembali bersama. Kepada mereka yang kehilangan orang tercinta, semangat mereka hidup dalam setiap langkah kita ke depan. Kepada anak-anak yang tidur di pengungsian, masa depan kalian adalah janji kemerdekaan yang harus kami tepati.
Dirgahayu Republik Indonesia! Dari tengah derita Flores, dari Manggarai hingga Ende, dari Nagekeo hingga Sikka, mari kita gaungkan kebangkitan bersama ini, bukan dengan teriakan kemenangan yang sombong, tetapi dengan bisikan tekad yang tak tergoyahkan.
Mari bangkit bersama, dari puing menuju harapan, dari derita menuju pemulihan, demi anak cucu kita, demi pulau yang kita cintai, demi kemerdekaan yang harus terus kita perjuangkan setiap hari.
Flores akan bangkit. Flores akan pulih. Dan kebangkitan itu dimulai hari ini, dari tengah reruntuhan, dengan bendera Merah Putih yang tetap berkibar. Meski tiangnya retak, ia tidak akan pernah jatuh. Merdeka! *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










