Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial - FloresPos Net

Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial

- Jurnalis

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI ERA informasi yang mengalir deras, kita sering kali merasa memahami sebuah konflik hanya dengan membaca judul berita atau menonton cuplikan video berdurasi satu menit. Namun, apa yang kita konsumsi bukanlah realitas utuh, melainkan realitas yang telah “dibingkai” (framed).

Media massa, baik konvensional maupun digital, memegang kuasa besar dalam menentukan bagaimana publik memaknai sebuah peristiwa. Ketika bingkai ini bias atau sensasional, dampaknya bisa salah paham, bahkan yang lebih besar seperti retaknya harmoni sosial.

Konsep ‘framing’ atau pembingkaian, sebagaimana didefinisikan oleh Robert Entman dalam kajian klasiknya (Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 1993, 51-58), adalah proses menyeleksi aspek-aspek tertentu dari realitas yang dirasakan dan menjadikannya lebih menonjol dalam teks komunikasi.

Baca Juga :  Gereja Harus Terlibat dalam Politik (Diskursus Ringan Seputar Pilkada Ende)

Tujuannya adalah untuk mempromosikan definisi masalah tertentu, interpretasi kausal, evaluasi moral, dan/atau rekomendasi penanganan.

Dalam konteks konflik sosial, media sering kali terjebak pada ‘war journalism’ (jurnalisme perang) yang berfokus pada kemenangan-kalahan, kekerasan, dan perbedaan yang tajam antar-kelompok. Sementara di media sosial, hal ini sering kali muncul begitu saja oleh konten kreator tanpa memikirkan dampak lanjutannya.

Dampak dari pembingkaian semacam ini sangat nyata. Ketika media terus-menerus menyoroti perbedaan identitas (agama, suku, golongan) dalam sebuah sengketa tanpa menyertakan konteks perdamaian, publik cenderung mengadopsi pandangan “Kami vs Mereka”.

Studi mengenai aktivisme media sosial di Indonesia menunjukkan bagaimana narasi digital dapat memobilisasi massa, namun juga berpotensi memperdalam polarisasi jika tidak dikelola dengan etika yang tepat (Lim, M. (2013). Many clicks but little sticks: Social media activism in Indonesia. Journal of Contemporary Asia, 43(4), 636-657).

Baca Juga :  Flores Butuh Pendidikan Bukan Geothermal (Catatan Kecil di Hardiknas)

Algoritma media sosial yang memperkuat ‘echo chamber’ semakin memperparah situasi, di mana pengguna hanya terpapar informasi yang mengonfirmasi bias mereka, sehingga konflik yang seharusnya lokal bisa melebar menjadi krisis yang meluas.

Bagaimana jalan keluar untuk menjaga harmoni sosial? Jawabannya terletak pada pergeseran paradigma menuju ‘Peace Journalism’ atau Jurnalisme Perdamaian.

Johan Galtung, tokoh  studi tentang perdamaian, menawarkan pendekatan di mana media tidak hanya melaporkan kekerasan, tetapi juga menyoroti upaya perdamaian, struktur konflik yang mendasarinya, dan dampak kemanusiaan dari semua pihak yang terlibat (Galtung, J. (2002). Peace Journalism – A Choice. Transcend.org).

Berita Terkait

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Berita ini 110 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Kuasa Hukum Mayella da Cunha Laporkan Dua Kasus ke Polres Sikka

Senin, 7 Sep 2026 - 21:12 WITA