Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial - FloresPos Net - Page 2

Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial

- Jurnalis

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jurnalisme perdamaian tidak berarti menutupi fakta atau bersikap netral secara buta. Sebaliknya, ini adalah pilihan sadar untuk membingkai berita dengan cara yang membuka ruang dialog, bukan menutupnya.

Misalnya, alih-alih menggunakan judul “Kelompok A Menyerang Kelompok B”, media dapat menggunakan sudut pandang “Konflik Lahan Mengorbankan Warga Sipil, Upaya Mediasi Sedang Berjalan”. Perubahan narasi ini terbukti dapat menurunkan tensi emosi publik dan mendorong solusi yang konstruktif.

Baca Juga :  Euthanasia Dalam Pandangan Gereja Katolik Menurut Ensiklik Evangelium Vitae

Di Indonesia, tantangan ini semakin kompleks dengan hadirnya ‘citizen journalism’ dan media partisipatoris. Literasi media tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab jurnalis profesional, tetapi juga pengguna media. Kita perlu kritis: bingkai apa yang sedang ditawarkan kepada saya? Apakah narasi ini bertujuan mengadu domba atau mengedukasi?

Sejatinya, harmoni sosial bukanlah kondisi statis tanpa perbedaan, melainkan dinamika di mana perbedaan dikelola tanpa kekerasan. Media memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi bensin dalam api konflik.

Baca Juga :  Membangun Politik Sehat Menyambut Pikada 2024-2029

Dengan mengadopsi prinsip ‘peace framing’, media dapat bertransformasi dari pemicu konflik menjadi jembatan rekonsiliasi. Sudah saatnya kita menuntut konten media yang tidak hanya mengejar klik, tetapi juga menjunjung tinggi kohesi sosial bangsa. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?
Hindayana dan Kurikulum Keteladanan
Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila
Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Berita ini 89 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:05 WITA

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:05 WITA

Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:55 WITA

Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:25 WITA

Hindayana dan Kurikulum Keteladanan

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Sekcam Talibura Edukasi Pentingnya PAUD di SD Inpres Narita

Sabtu, 6 Jun 2026 - 20:20 WITA

Opini

Krisis sebagai Penggerak Transformasi

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:05 WITA