Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila - FloresPos Net

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Walburgus Abulat

ENDE, kota tua yang terletak tengah Pulau  Flores-Nusa Bunga, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Nama Ende terpatri dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Sebuah sejarah peradaban nilai. Nilai-nilai luhur yang menjadi perekat, filosofi, pandangan hidup bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika ini.

Sejarah peradaban bangsa ini, nilai-nilai luhur yang kemudian dijadikan Dasar Negara Pancasila, konon awalnya merupakan hasil permenungan Bung Karno, ketika Sang  Proklamator Kemerdekaan RI itu duduk termenung di bawah pohon sukun di dekat Pantai Selatan Kota Ende, atau sekitar 1 kilometer dari rumah yang dihuni Presiden Pertama RI itu, selama menjalani masa pembuangan di Ende tahun 1933-1935.

Baca Juga :  Ketika 'Laudato Si' Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak?

Sukun tempat di mana Soekarno merenungkan lima butir mutiara yang kemudian dijadikan Dasar Negara Pancasila ini dibuat monumen yang bertuliskan Di Kota ini kutemukan lima butir mutiara di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila. Inilah refleksi Soekarno yang diabadikan secara sejarah dalam monumen ini.

Peresmian Patung dan Taman Bung Karno Ende-Flores oleh Wakil Presiden RI Profesor Boediono bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Juni 2013.

Sukun di mana Bung Karno menggali mutiara, nilai-nilai luhur kebangsaan ini, memang terbilang unik. Sukun ini memiliki lima cabang yang diyakini erat kaitan sejarahnya dengan lima mutiara, lima nilai luhur yang direfleksikan Bung Karno, yang kemudian dijadikannya sebadai Dasar Negara yakni Pancasila.

Baca Juga :  Perpustakaan, Literasi dan Transformasi Sosial

Sukun ini bertumbuh subur. Daunnya rindang. Cabang dan dahannya kian kokoh. Rindangannya menjadi perlindungan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya, apa pun latar belakangnya.

Tak jauh dari monumen ini, sekitar 5 meter dibangun Patung Bung Karno dalam posisi duduk, mengarah ke laut. Soekarno terlihat anggun. Ia mengenakan peci. Berpakaian rapi. Tatapannya tajam-penuh makna.

Di bawah pohon sukun ini pulalah, Bung Karno berdiskusi tentang kehidupan aneka topik sosial, kemanusiaan, prinsip-prinsip kehidupan  dengan sejumlah elemen warga, terutama beberapa pastor dari Kongregasi Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah (SVD).

Berita Terkait

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
Berita ini 120 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 19:11 WITA

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Berita Terbaru

Pius Jemadu, S.Fil.

Opini

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Kamis, 10 Sep 2026 - 19:11 WITA