Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila - FloresPos Net - Page 2

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa pastor yang menjadi teman diskusi Soekarno selama ia menjalani pengasingan di Ende di antaranya Pastor Paroki Katedral Ende saat itu Pater P.G. Huijtink SVD. Konon, Misionaris asal Belanda ini memberikan seluas-luasnya kepada Soekarno untuk menggunakan gedung Imakulata demi pementasan beberapa karya drama yang dihasilkan Soekarno.

Pater Huijtink juga menyerahkan kunci perpustakaan Biara Santo Yosef Ende-tempat  ia dan anggota Kongregasi SVD biasa menimba ilmu melalui aneka buku dan bacaan lainnya milik SVD saat itu.

Pastor SVD lainnya yang menjadi teman diskusi Soekarno yakni Pater Doktor Bouma SVD. Pater Bouma SVD adalah Superior Regional SVD selama periode 1932-1947, dan pendiri Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero pada tahun 1937.

Baca Juga :  Pembelajaran Mendalam: Fondasi Baru Pendidikan Indonesia?

Para pastor SVD yang menjadi teman diskusi Bung Karno lainnya yakni Pater Dr. M. Van Stiphout SVD, Pater Adriaan Moomersteeg SVD, Pater Johannes va der Hijden SVD, Pater Antoine Hubert Thijssen SVD yang waktu Bung Karno berada di Ende, ia menduduki jabatan Vikarius Apostolik Ende. Pater Hubert Thijssen SVD kemudian menjadi Uskup Larantuka.

Bung Karno sering berdiskusi dengan para pastor ini terkait aneka soal yang lokasinya sebagian besar di bawah sukun yang ada di Taman Pancasila Ende saat ini dan atau di Biara Santo Yosef dan Rumah Situs Pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira saat ini.

Baca Juga :  Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT

Tak jauh dari tempat ini, berdiri megah Gereja Katedral Christo Regi Ende dan Biara Santo Yosef milik Kongregasi SVD Ende. Jarak Taman Pancasila dengan Gereja dan Biara ini sekitar 150 meter.

Bung Karno sering berdiskusi dengan pastor tentang aneka hal kehidupan warga saat-saat masa pendudukan Belanda, termasuk diskusi soal mutiara atau prinsip hidup yang kemudian direfleksikan Bung Karno menjadi Dasar Negara.

Sementara di sebelah barat Taman Pancasila berdiri situs Bung Karno berukuran 8 kali 10 meter. Di situs Bung Karno ini ditemukan aneka benda bersejarah peninggalan Bung Karno.

Berita Terkait

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:37 WITA

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:41 WITA

Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:45 WITA

Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Berita Terbaru

Opini

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Senin, 1 Jun 2026 - 20:20 WITA