Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila - FloresPos Net - Page 3

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di antaranya biola, naskah drama Tonel Kelimutu, Lukisan Pura Bali, Strika besi, cerek air aluminium, katrol sumur, piring hias, piring porselin, piring nasi, surat keterangan kawin Ibu Inggit  Garnasih dengan Bung Karno tertanggal 24 Maret 1923, Surat keterangan perjanjian cerai Ibu Inggit Garnasih dengan Bung Karno pada tahun 1942, ada 18 foto,  pulpen, cerita anak angkat Bung Karno, destar, kain sarung Samarinda, kaki meja berukir, kursi duduk, meja makan, tempat tidur kayu, lemari, gantung pakaian, tempat tidur ranjang dari besi untuk Bung Karno dan keluarga, ada dua tempat tidur keluarga, ada lampu minyak, ada dua tongkat Bung Karno satunya motif monyet yang digunakan Bung Karno di dalam Kota untuk menghina dan merendahkan penjajah Belanda, dan satu tongkat lain bermotif polos yang digunakan Bung Karno saat bepergian ke luar kota.

Baca Juga :  Gestur Kecil yang Berbesar Dampak

Ada ruang semadi, kamar mandi, dapur, sumur, toilet, dan beberapa benda bersejarah lainnya.

Benda-benda peninggalan sejarah ini diatur rapi. Sebagian besarnya dipajangkan di Ruang Tamu. Yang lainnya tersebar di kamar tamu, kamar keluarga, dapur, dan di beberapa ruang di rumah tua ini.

Itulah sekilas Ende dan Bung Karno dalam permenungan saya ketika kita merayakan Hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2026.

Sebuah permenungan yang menampakkan indahnya suasana kebersamaan menjelang momen bersejarah  Kemerdekaan RI tahun 1945. Sebuah suasana yang saling mengisi di tengah adanya perbedaan. Sebuah suasana dan kekerabatan yang dibangun di atas adanya perbedaan entah agama, suku, ras dan antargolongan.

Baca Juga :  Tanggapan Familiaris Consortio Terhadap Masalah Perselingkuhan dalam Keluarga Katolik

Meskipun mereka berbeda, tetapi untuk sesuatu hal yang baik, yang mendasar, demi memajukan pendidikan, kemanusiaan, dan nilai-nilai positif lainnya, mereka saling mengisi dan melengkapi.

Inilah sebuah keindahan yang dipancarkan dari keberadaan Bung Karno di Ende dalam dalam perjumpaannya dengan sejumlah elemen warga, terutama dengan para pastor saat itu.

Sembari menikmati indahnya nostalgia yang diwariskan Bung Karno dan para pastor SVD saat itu, pikiranku bergulir pada aneka peristiwa di negeri ini dalam beberapa tahun terakhir di antaranya seputarnya maraknya aksi-aksi tak terpuji yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang memecah belahkan bangsa atas keadilan dan praktik keagamaan tertentu.

Berita Terkait

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe
Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data
Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 20:20 WITA

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:37 WITA

Dalam Pelukan Ine Maria Guadalupe

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:41 WITA

Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:45 WITA

Sensus Ekonomi 2026: Menata Arah Perekonomian Kabupaten Ende Berbasis Data

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Berita Terbaru

Opini

Ende, Soekarno, dan Momen Lahirnya Pancasila

Senin, 1 Jun 2026 - 20:20 WITA