Di tengah ada pengendapan nilai-nilai ke-Bhinekaan Tunggal Ika yang diwariskan Soekarno ini, pikiranku terusik dengan pengalaman anak negeri ini yang begitu sulit mendapatkan izinan untuk membangun rumah, atau bahkan ada aksi tak terpuji oknum-oknum warga bangsa yang membakar atau merusakkan sarana-sarana ibadat agama tertentu.
Masih banyak pertanyaan menggelitik lainnya terlintas di benakku, termasuk bagaimana upaya mempolitisasi agama untuk tujuan politik tertentu atau menampakkan suara keagamaan untuk menjegal langkah-langkah anak negeri yang kian memberikan bukti melalui terobosan-terobosan positif memajukan daerah, regional atau negeri ini.
Terkadang nalar keilmiahanku tak bisa membaca apa yang hendak dicapai ketika ada anak di negeri ini yang selalu mengagungkan kemayoritasannya, dan ingin menari ria di atas penderitaan kaum kecil-minoritas yang ganti hari ganti gemala penderitaannya.
Di tengah kacau kecewanya situasi ini, saya teringat suara lantang Santa Teresia, peraih nobel Perdamaian Dunia tahun 1978, yang menulis sebuah surat terbuka kepada Perdana Menteri India Morarji Desai tahun 1978, ketika Parlemen India membahas rancangan Undang-Undang Kebebasan beragama.
Ibu Teresa menulis Agama bukanlah sesuatu yang Anda maupun saya dapat menjamahnya. Agama adalah pengabdian kepada Tuhan, dan karenanya merupakan urusan hati nurani. Saya sendiri yang mengambil keputusan bagi diri saya sendiri, dan Anda bagi diri Anda, apa yang akan kita pilih.
Karena itu, tidak ada seorang pun, tidak ada undang-undang, dan tidak ada pemerintahan atau penguasa yang berhak merintangi saya atau memaksa saya dan siapa saja, apabila saya memilih untuk memeluk agama yang memberikan kepada saya perdamaian, kebahagiaan, dan cinta kasih.
Semoga suara lantang Santa Teresa ini menjadi suara lantang kita juga, apa pun latar belakang kita. Alangkah indah dan damainya suasana kebangsaan dan kenegaraan NKRI ini jika warganya mengaktualisasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan, terutama Pancasila dalam keseharian hidupnya.
Kiranya persaudaraan yang dibangun Bung Karno dan sejumlah pastor yang bertugas di Ende saat masa pengasingan Presiden Pertama RI di Ende pada tahun 1934-1938 mengaromai dan menjadi spirit keseharian warga bangsa ini entah apa saja agama, suku, ras dan golongannya.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










