Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi - FloresPos Net

Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi

- Jurnalis

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Piter Bota

SEBUAH dilema besar tengah berkecamuk di jantung umat. Di satu sisi, ada rasa sedih yang mendalam ketika melihat sebagian umat Katolik secara terbuka menyatakan sikap mendukung kehadiran industri tambang.

Bagi sebagian pihak, dukungan ini terasa seperti kompromi terhadap kelestarian alam ciptaan Tuhan. Namun di sisi lain, muncul rasa prihatin yang tak kalah mengiris hati saat kita menatap realitas hidup masyarakat di sana salah satunya di Stasi Jengkalang yang terus dihimpit kemiskinan struktural.

Diskusi mengenai tambang sering kali terjebak dalam perdebatan hitam-putih: mereka yang menolak dianggap pahlawan lingkungan, dan mereka yang menerima dituduh abai pada ekologi.

Namun, benarkah sesederhana itu? Jika kita mau turun dan merasakan debu di Jengkalang, kita akan tahu bahwa pilihan mereka tidak lahir dari keserakahan, melainkan dari tuntutan perut yang tak bisa ditunda.

Nestapa Jengkalang: Ketika Hari Esok Adalah Kemewahan

Stasi Jengkalang mungkin menjadi salah satu potret wilayah dengan angka pendidikan paling minim. Sepanjang sejarahnya, jebolan sarjana di sana mungkin hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan hanya sekitar 3 atau 4 orang.

Bukan karena anak-anak Jengkalang tidak punya mimpi, melainkan karena orang tua mereka kehabisan cara untuk membiayai ongkos kuliah. Angka putus sekolah pun terus meroket.

Dulu, mayoritas warga menggantungkan hidup sebagai buruh pelabuhan. Namun, modernisasi tak bisa ditawar; ketika sistem peti kemas masuk, lapangan kerja tradisional itu seketika terkikis dan hilang.

Kini, demi menyambung hidup, sebagian warga beralih menjadi tukang ojek atau menjual kayu api. Pola hidup mereka berubah menjadi “cari hari ini untuk makan hari ini.” Jangankan berbicara tentang tabungan masa depan, memikirkan apa yang bisa dimakan esok hari saja sudah menjadi beban yang berat.

Baca Juga :  Sekelumit Kampanye dan Sosialisasi Menjelang Pemilu 2024

Di tengah situasi tanpa pilihan inilah, investor tambang datang membawa “angin segar”. Mereka tidak hanya menawarkan pekerjaan, tetapi juga membawa solusi atas kebutuhan dasar yang selama ini absen dari sentuhan negara atau lembaga keagamaan: akses air minum bersih, fasilitas pendidikan, mobil pengangkut anak sekolah, hingga jaringan listrik. Bagi warga Jengkalang, investor tambang hadir bak jawaban atas doa-doa mereka yang kelaparan.

Kritik Ekologis vs. Realitas Perut yang Lapar

Ketika gelombang kritik dari berbagai pihak luar berdatangan dengan dalih pengrusakan hutan, ancaman ekologis, dan mandat iman untuk menjaga alam ciptaan Tuhan muncul sebuah pertanyaan reflektif yang menohok:

Apakah mereka yang mengkritik dari balik meja yang nyaman pernah benar-benar melihat dan merasakan penderitaan warga akibat keterbatasan itu?

Menjaga bumi adalah panggilan iman yang luhur. Kerusakan ekologis akibat tambang adalah kenyataan yang tak bisa dibantah: hutan yang gundul, potensi krisis air jangka panjang, dan hilangnya ruang hidup generasi masa depan. Kritik tersebut sepenuhnya valid dan lahir dari niat baik demi keberlanjutan hidup manusia.

Namun, menuntut warga yang sedang kelaparan untuk menjaga hutan tanpa memberikan solusi alternatif adalah sebuah ironi yang kering akan empati. Bagaimanakah kita bisa mengkhotbahkan teologi lingkungan kepada orang tua yang bingung mencari biaya berobat anaknya yang sakit, atau kepada anak-anak yang harus berjalan kaki belasan kilometer demi sekolah?

Baca Juga :  Desember dan Hari Ibu

Tantangan Bagi Para Penolak Tambang: Jangan Hanya di Bibir Saja

Jika kita benar-benar murni menolak tambang karena cinta pada bumi dan kemanusiaan, maka penolakan itu tidak boleh berhenti di bibir saja. Menolak tambang berarti kita harus siap mengambil alih tanggung jawab yang ditawarkan oleh investor tersebut.

Mari kita buka ruang diskusi yang adil dan jujur, lalu mewujudkannya dalam aksi nyata: Jika kita melarang mereka menerima mobil sekolah dari tambang, mampukah kita menyediakan transportasi alternatif bagi anak-anak Jengkalang?

Jika kita menolak korporasi mengelola air dan listrik mereka, apa solusi konkret yang bisa kita tawarkan untuk mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga?

Bagaimana kita bersama-sama menggalang solidaritas umat untuk menyediakan beasiswa agar jumlah sarjana di Jengkalang tidak lagi hanya 3 atau 4 orang?

Menuju Solusi Bersama

Tulisan ini tidak diciptakan untuk membenarkan pengrusakan alam, tidak pula untuk menghakimi mereka yang mempertahankan ruang hidupnya. Tulisan ini adalah undangan terbuka untuk duduk bersama secara kepala dingin dan hati yang jernih.

Masyarakat Jengkalang membutuhkan kesejahteraan, dan bumi membutuhkan perlindungan. Tugas kita sekarang bukan saling menyalahkan, melainkan mencari jalan tengah (solusi alternatif) ekonomi berkelanjutan—seperti pemberdayaan pertanian, ekowisata, atau industri kreatif lokal—yang mampu menjawab kebutuhan perut warga tanpa harus mengorbankan masa depan ekologi mereka.

Sebab pada akhirnya, iman yang sejati adalah iman yang tidak hanya mencintai penciptaan-Nya secara abstrak, tetapi juga merangkul sesama manusianya yang sedang menderita dalam kedagingan yang nyata. Mari berdiskusi, mari bertindak! *

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Menimbang Etika Politik Pilkades
Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah
Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo
Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran
Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu
Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)
Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:33 WITA

Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:16 WITA

Menimbang Etika Politik Pilkades

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:18 WITA

Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:29 WITA

Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo

Senin, 22 Juni 2026 - 21:12 WITA

Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Mahasiswa Harus Siapkan Diri Menjadi Bagian Dari Dunia Usaha

Senin, 29 Jun 2026 - 14:44 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Membaca Kisah Candi Audia

Minggu, 28 Jun 2026 - 07:43 WITA