Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu - FloresPos Net

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S. Fil.

DI tengah polemik diskursus terkait pengaplikasian 12 program unggulan Willybrodus Lay dan Vicente Hornai Gonsalves, saya tertarik dengan apa yang dibahas oleh media Nusra Inside.

Ketika membaca berita yang diterbitkan oleh media Nusra Inside pada tanggal 17 Juni 2026 tentang sengkarut jaminan sosial di tapal batas, saya tergelitik.

Media memulai dengan program yang pertama, yaitu “Kesehatan Gratis Plus”, yang ternyata langsung kandas begitu menabrak dinding tebal regulasi nasional.

Oleh karena itu, bagi saya melalui tulisan ini, penting untuk memberikan analisis filosofis-ideologis guna membedah sejauh mana jargon-jargon politik ini menyembunyikan defisit konseptual yang akut.

Baca Juga :  Retret Kepemimpinan, Etika Politik dan Sensitivitas Publik

Jika program pertama saja sudah cacat sejak dalam kandungan nalar hukum, kita patut mempertanyakan bagaimana dengan nasib program-program lainnya?

Apakah janji mulia seperti Dana 1 Kelurahan 1 Miliar, SIM Gratis bagi Ojek, atau Pendidikan Gratis itu juga sekadar dokumen fiksi yang dirancang untuk berburu poin elektoral?

Kita dipaksa menyaksikan sebuah orkestrasi politik yang mahir memproduksi daftar keinginan (wishlist), namun gagap dalam merumuskan metodologi eksekusi yang riil.

Baca Juga :  Bijak Bermedia Sosial Dalam Terang Evangelii Nutiandi

Publik disodori 12 menu mewah di atas kertas, tanpa pernah diberi tahu apakah dapur anggaran daerah sanggup membiayai seluruh kemewahan sirkus politik tersebut.

Di sinilah letak watak dasar dari populisme elektoral: ia hanya peduli pada angka kemenangan di bilik suara, bukan pada ketahanan fiskal daerah.

Strategi politik yang dimainkan oleh Paket “Sahabat Sejati” ini sejatinya menggunakan teknik manipulasi psikologis tingkat tinggi yang sangat klise di negara berkembang.

Berita Terkait

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)
Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:55 WITA

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WITA

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

Berita Terbaru

Opini

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Minggu, 21 Jun 2026 - 11:14 WITA