Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu - FloresPos Net - Page 7

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jadikan warung-warung kopi di Atambua, ruang kelas, hingga media sosial sebagai mimbar akademik untuk membedah dan menguliti kinerja pemerintah berdasarkan data empiris.

Kita harus membuktikan kepada para elite politik bahwa rakyat Belu hari ini tidak bisa lagi dibeli kepatuhannya hanya dengan janji manis musiman.

Kritik yang bermutu dan berbasis kajian ilmiah adalah satu-satunya obat penawar yang bisa menyembuhkan penyakit populisme akut yang sedang menjangkiti daerah ini.

Kita harus menegaskan kembali prinsip dasar demokrasi bahwa kekuasaan tanpa pengetahuan adalah bentuk kejahatan intelektual yang paling nyata merugikan hajat hidup orang banyak.

Baca Juga :  Difabel dan Dunia Kerja

Pemimpin yang mengumbar janji tanpa kajian tidak hanya sedang memperlihatkan kedunguannya sendiri, tetapi juga sedang merendahkan martabat berpikir warganya.

Jangan biarkan 12 program prioritas tersebut menguap begitu saja menjadi sekadar monumen kebohongan sejarah yang merusak tatanan sosial masyarakat perbatasan.

Akhiri segera masa-masa di mana politik daerah dikendalikan oleh para makelar harapan yang gemar memproduksi kebijakan prematur demi tepuk tangan seremoni.

Baca Juga :  Penerapan E-Government di Indonesia Sebagai Upaya Minimalisir Korupsi

Masa depan Kabupaten Belu terlalu berharga jika harus terus digadaikan kepada para petualang politik yang miskin konsep ilmiah namun kaya akan imajinasi palsu.

Pada akhirnya, kehormatan dan kemajuan Rai Belu tidak ditentukan oleh seberapa megah renovasi Stadion Haliwen atau seberapa riuh penyelenggaraan Festival Budaya.

Keberhasilan pembangunan di tapal batas ini sangat bergantung pada keberanian kolektif warganya untuk merawat kewarasan intelektual dan mengusir kedunguan dari ruang politik.

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA