Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu - FloresPos Net - Page 2

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mereka secara sengaja mengeksploitasi kemiskinan dan kerentanan struktural masyarakat perbatasan melalui janji-janji yang langsung menyentuh urusan perut dan dompet.

Penyematan kata “Plus” pada program kesehatan, atau embel-embel “Gratis” pada SIM dan pendidikan, adalah taktik pemasaran tanda (sign) untuk mengaburkan absennya analisis dampak lingkungan kebijakan.

Politik tidak lagi diposisikan sebagai arena etis untuk mendistribusikan keadilan, melainkan merosot menjadi sekadar ajang transaksional berkedok bantuan sosial.

Pasangan kontraktor dan teknokrat sipil ini tampaknya memperlakukan daerah seperti proyek konstruksi yang bisa diselesaikan hanya dengan modal kalkulasi semen dan batu.

Baca Juga :  Ikhtiar Menjaga Jiwa dan Merawat Semesta (Sebuah Sisipan Refleksi Filosofis-Pastoral Dies Natalis ke-35 Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)

Jean Baudrillard dalam teori simulakra mengingatkan kita bahwa ketika tanda telah terlepas dari realitasnya, ia akan menciptakan realitas semu yang menipu.

Dua belas program prioritas tersebut adalah bentuk simulacrum politik, sebuah fantasi kemakmuran yang sengaja diproduksi untuk menutupi kemandulan visi strategis jangka panjang.

Publik Belu dipaksa hidup dalam kepalsuan infografis kampanye, seolah-olah seluruh persoalan kemiskinan ekstrem di tapal batas bisa selesai dengan pembagian sumur bor dan renovasi stadion.

Baca Juga :  Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Strategi ini sangat efisien untuk membius daya kritis massa, sehingga mereka lupa mempertanyakan sinkronisasi program dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Akibatnya, esensi demokrasi yang berbasis pada perdebatan akal sehat digantikan oleh parade komodifikasi janji yang tuna-substansi.

Namun, permainan tanda yang manipulatif ini tidak akan pernah berhasil tanpa adanya pasokan kedunguan dari masyarakat yang tidak kritis.

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA