Valentine dan Komersialisasi Kasih Sayang - FloresPos Net

Valentine dan Komersialisasi Kasih Sayang

- Jurnalis

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Antonius Ali Wutun

SETIAP pertengahan Februari, etalase pusat perbelanjaan berubah menjadi lautan merah muda. Bunga mawar, cokelat berbentuk hati, hingga paket makan malam romantis dipromosikan secara masif. Perayaan Valentine’s Day kembali hadir dengan satu pesan utama: ini adalah hari kasih sayang.

Namun di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kasih sayang membutuhkan kegemerlapan untuk diakui? Jika Valentine dimaknai sebagai hari cinta, mengapa yang paling menonjol justru promosi dan transaksi

Kasih Sejati Mengalir dalam Sunyi

Kasih sayang pada hakikatnya adalah pengalaman batin. Ia tumbuh dalam perhatian sederhana, kesediaan mendengar, dan kehadiran yang konsisten.

Cinta kerap hadir dalam bentuk sunyi—menemani dalam kesulitan, memberi waktu tanpa pamrih, atau bertahan dalam keadaan yang tidak mudah. Ia tidak memerlukan simbol mahal untuk menjadi nyata.

Namun dalam masyarakat yang semakin konsumtif, ekspresi cinta perlahan diterjemahkan ke dalam bahasa pasar. Emosi menjadi momentum ekonomi. Industri bunga, cokelat, dan berbagai layanan melihat perasaan sebagai peluang komersial.

Baca Juga :  Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT

Logika yang dibangun terasa sederhana: semakin istimewa hadiah, semakin besar cinta yang ditunjukkan. Benarkah demikian?

Kasih dan Materi

Di sinilah Valentine beririsan dengan komersialisasi kasih sayang. Relasi antarmanusia bergeser menjadi relasi antara konsumen dan barang.

Perhatian dirumuskan dalam paket promo, sementara kehangatan kerap diukur melalui representasi di ruang publik. Cinta seolah harus terlihat agar dianggap ada.

Memberi hadiah tentu bukan kesalahan. Perayaan pun bukan sesuatu yang keliru. Persoalan muncul ketika simbol menggantikan substansi dan nilai cinta ditentukan oleh harga. Tidak semua orang memiliki kemampuan ekonomi yang sama.

Ketika Valentine dipersepsikan sebagai kewajiban konsumsi, ia dapat menimbulkan tekanan sosial dan rasa kurang, seakan ketulusan harus dibuktikan dengan materi.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara memaknai relasi. Apa yang seharusnya intim mudah berubah menjadi tontonan. Batas antara ekspresi tulus dan kebutuhan pengakuan menjadi kabur.

Dalam situasi demikian, pertanyaannya bukan lagi seberapa mahal perayaannya, melainkan seberapa dalam maknanya.

Momentum Memurnikan Kasih

Baca Juga :  Mungkinkah Demokrasi Deliberatif dalam Kasus RS Pratama Solor

Valentine seharusnya menjadi pengingat, bukan penentu. Ia dapat menjadi momentum refleksi tentang bagaimana kita merawat hubungan, bukan sekadar ajang belanja tahunan. Cinta tumbuh dari kehadiran dan waktu yang diberikan, bukan dari kewajiban sosial atau tekanan tren.

Komersialisasi kasih sayang tidak berarti menolak perayaan. Yang perlu dijaga adalah agar makna tidak dikalahkan oleh mekanisme pasar. Kita dapat merayakan secara sederhana, personal, dan bermakna tanpa harus terjebak dalam standar simbolik yang seragam.

Pada akhirnya, yang bisa dikomersialkan hanyalah simbolnya, bukan esensinya. Pasar boleh menawarkan berbagai cara untuk merayakan Valentine, tetapi pilihan untuk memaknai tetap berada pada kita.

Di tengah riuhnya promosi, barangkali yang paling penting adalah kembali bertanya: apakah kita mencintai karena ingin menunjukkan, atau karena sungguh-sungguh peduli?

Jika jawabannya adalah ketulusan, maka kasih sayang tidak pernah benar-benar menjadi komoditas. Nilainya tidak ditentukan oleh harga, melainkan oleh kedalaman relasi yang kita rawat setiap hari. *

Penulis adalah Dosen STKIP YPUP Makassar

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Berita ini 81 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Kamis, 10 September 2026 - 19:11 WITA

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Berita Terbaru

Opini

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Jumat, 11 Sep 2026 - 16:23 WITA

Pius Jemadu, S.Fil.

Opini

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Kamis, 10 Sep 2026 - 19:11 WITA