Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores - FloresPos Net

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baltasar Djata

Baltasar Djata

Oleh: Baltasar Taruma Djata

TANGGAL 15 Agustus 2026 dapat dibaca bukan semata sebagai sebuah penanda waktu terjadinya bencana, melainkan juga sebagai momentum refleksi tentang kerentanan dan masa depan masyarakat Flores.

Gempa, dalam pengertian fisik, menghadirkan guncangan yang mengingatkan manusia bahwa kehidupan di wilayah kepulauan Indonesia senantiasa berada dalam perjumpaan antara potensi alam, risiko kebencanaan, dan keterbatasan pembangunan.

Pada 15 Agustus 2026, Flores mengalami gempa tektonik bermagnitudo M7,7 pada kedalaman sekitar 15 Km, dengan episenter di laut sekitar 30 km timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Gempa yang bersumber dari mekanisme sesar naik (thrust fault) pada Flores Back-arc Thrust tersebut juga memicu tsunami dan rangkaian gempa susulan, sehingga memperlihatkan bahwa kerentanan masyarakat pesisir tidak berhenti pada guncangan utama, tetapi dapat berlanjut menjadi risiko sosial ekonomi yang lebih kompleks (BMKG, 2026).

Baca Juga :  Kerja Keras Saja Tidak Cukup

Di sinilah gagasan GEMPAR (Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat) menjadi relevan. Jika gempa mengguncang fondasi fisik kehidupan, maka GEMPAR dapat dimaknai sebagai upaya mengguncang fondasi ekonomi lama yang membuat masyarakat terlalu bergantung pada bantuan, pasar dari luar daerah, dan kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya bertumpu pada kekuatan rakyat.

Dengan demikian, hubungan antara GEMPA dan GEMPAR bukanlah sekadar permainan akronim. Keduanya dapat dibaca sebagai dua realitas yang saling berhadapan: yang Gempa adalah guncangan yang datang dari alam, sedangkan Gempar adalah gerakan yang harus lahir dari kesadaran manusia. Gempa tidak dapat dicegah, tetapi dampak sosial-ekonominya dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki ketahanan ekonomi yang kuat.

Baca Juga :  Spirit Servant Leadership Memotivasi TNI-Polri dalam Melayani Masyarakat untuk Indonesia Maju (Pesan Natal pada Nataru Polda Jambi dan Kodim 1625/Ngada)

Gempa sebagai Pengingat tentang Kerentanan Flores

Flores merupakan wilayah yang hidup dalam landskap geografis yang kompleks. Potensi kebencanaan merupakan bagian dari realitas kehidupan masyarakat. Karena itu, bencana tidak seharusnya dipahami hanya sebagai peristiwa alam yang selesai ketika guncangan berhenti.

Berita Terkait

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Berita ini 87 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Berita Terbaru