Oleh karena itu, pembangunan ekonomi rakyat sesungguhnya dapat dipahami sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana.
Dalam konteks ini, GEMPAR memiliki dimensi yang lebih luas. GEMPAR bukan sekadar agenda ekonomi, tetapi juga agenda ketahanan sosial. Masyarakat yang mandiri secara ekonomi memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menghadapi guncangan, baik guncangan yang berasal dari alam maupun dari perubahan ekonomi.
Jika GEMPA adalah peristiwa yang menguji ketahanan masyarakat, maka GEMPAR adalah gerakan yang mempersiapkan masyarakat agar tidak mudah runtuh ketika ujian berikutnya datang.
Pemerintah, Masyarakat, dan Kolaborasi Pembangunan
GEMPAR tidak dapat menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Pemerintah berperan menyediakan regulasi, infrastruktur, akses permodalan, pendidikan, pendampingan, dan pasar.
Namun, keberhasilan gerakan ekonomi rakyat sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat sebagai pelaku utama. Ketika masyarakat hanya diposisikan sebagai penerima program, semangat kemandirian akan melemah. Karena itu, GEMPAR harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan generasi muda.
Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui riset dan inovasi. Komunitas dapat membangun solidaritas dan jaringan produksi. Generasi muda dapat menjadi penggerak transformasi digital dan pemasaran. Pelaku usaha dapat menjadi mitra dalam penguatan rantai nilai. Pemerintah desa dapat mendorong lahirnya model ekonomi berbasis potensi lokal.
Dari GEMPA menuju GEMPAR
Gempa dapat merobohkan bangunan, tetapi tidak boleh merobohkan harapan dan semangat masyarakat untuk bangkit. Guncangan mungkin menghentikan aktivitas ekonomi untuk sementara, namun tidak boleh mematikan cita-cita membangun kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.










