Bencana, Apakah Membawa Berkah? - FloresPos Net

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fardinandus Erikson

Fardinandus Erikson

Oleh: Fardinandus Erikson

MENDAPATKAN keberkahan dari sebuah bencana yang telah mengorbankan jiwa-raga, harta benda, sumber penghidupan. Bisa juga nantinya  menurunkan jabatan, dikejar penegak hukum, hingga diacaci-maki sesama sepertinya absurd-absurdus-tidak masuk akal,  bahkan tidak sehat cara berfikirnya.

Menengok kebermaknaan kata “berkah” yang didalamnya mengandung aspek Ilahi; yaitu kebaikan yang datang dari Allah; ada aspek kontinuitas ; ada unsur ketenangan hati dan jiwa; bahkan menjangkau  dunia hingga akhirat.

Artinya, menempatkan bencana sejajar dengan berkah jangan sampai ada aspek kecanduan; sengsara membawa nikmat; bahkan  bersyukur karena ada bencana. Membedah hal ini dengan mata pisau operasi yang paling tajam-skalpel atau lanset dari tipe 10 hingga 22 yaitu dengan mengutip para Teolog, filsuf, ekseget, psikolog bahkan semua  ilmu profan pasti tidak menghapus segala kengerian, ketakutan, keresahan, kecemasan bahkan kebencian karena jatah tidak adil hingga duka.

Baca Juga :  Locus Kaum Muda Dalam Pengawasan Partisipatif

Mestikah kita bertanya pada “rumput yang bergoyang”? ya; mari kita mencari jawaban dari alam itu sendiri. Alam ciptaan Tuhan Allah ini selalu mampu menjawab setiap peristiwa yang dia – alam – buat sendiri. Saat gempa; saat gunung meletus,  tsunami, ketika angin puting beliung; panas berkepanjangan, hujan berkepanjangan, saat banjir bandang, wabah penyakit.

Menjawab Bencana Berdasarkan Hukum Alam

Bencana alam pada hakikatnya merupakan perwujudan dari hukum alam yang berjalan sebagaimana ketetapan-Nya. Bukan berarti alam memiliki kemarahan khusus atau bencana dikirimkan sebagai hukuman semata, melainkan segala sesuatu di alam semesta ini berjalan menurut aturan, hubungan sebab-akibat, dan keseimbangan yang mutlak berlaku, tetap, dan tidak dapat diubah oleh siapa pun.

Baca Juga :  Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

Setiap peristiwa pasti memiliki penyebab yang nyata dan dapat dipelajari; gempa bumi muncul karena pergerakan lempeng bumi yang telah berjalan sejak jutaan tahun lalu, banjir terjadi karena curah hujan yang tidak tertahan lagi oleh tanah dan hutan, dan kekeringan muncul ketika siklus air serta keseimbangan lingkungan terganggu.

Semua itu bukan kejadian tanpa alasan, melainkan proses alam yang berjalan menurut hukum yang telah ditetapkan.

Berita Terkait

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 September 2026 - 17:01 WITA

Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten

Sabtu, 12 September 2026 - 12:58 WITA

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA

Opini

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 Sep 2026 - 21:30 WITA