Bencana, Apakah Membawa Berkah? - FloresPos Net - Page 3

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fardinandus Erikson

Fardinandus Erikson

Jika kita kembali hidup sesuai dengan aturan-Nya, menjaga keseimbangan lingkungan, dan selalu bersiap dengan ikhtiar yang baik, maka dampak buruk dapat dikurangi, dan dari setiap peristiwa pun dapat lahir hikmah yang membawa kita menjadi pribadi serta masyarakat yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada-Nya.

Menjawab Bencana Berdasarkan Keterbatasan Alam

Setiap hal di alam semesta ini memiliki batas yang telah ditetapkan. Tidak ada sesuatu yang berjalan tanpa ukuran atau melampaui ketentuan yang ada. Batas-batas alam itu berdiri kokoh dan tidak dapat diubah oleh siapa pun, baik oleh ilmu pengetahuan maupun kekuasaan manusia.

Ketika segala sesuatu berjalan di dalam batas-batasnya, maka terciptalah keteraturan, keseimbangan, dan kebaikan yang berkelanjutan. Namun apabila batas itu dilampaui, maka keseimbangan akan terguncang, dan peristiwa yang kita sebut bencana pun muncul sebagai wujud kembalinya keadaan kepada ketentuan yang seharusnya.

Baca Juga :  Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Bencana pada hakikatnya adalah tanda bahwa batas kemampuan alam telah terlampaui. Hutan memiliki batas kemampuannya menahan air, tanah memiliki batas kemiringan dan kekuatannya menahan beban, sungai memiliki batas daya tampung airnya, dan bumi memiliki batas ketebalan lapisan serta keseimbangan geraknya.

Apabila hutan ditebangi hingga melampaui batas kelestariannya, maka air hujan tidak lagi tertahan dan meluap menjadi banjir serta tanah pun ikut longsor. Apabila tanah dan lingkungan terus-menerus diubah tanpa memperhatikan daya dukungnya, maka bumi kehilangan kemampuan menahan dan menyeimbangkan dirinya, sehingga getaran yang terjadi di dalamnya lebih mudah menimbulkan kerusakan yang besar.

Baca Juga :  Bara Ketidakpuasan untuk Demokrasi yang Bertopeng

Semua itu terjadi bukan karena alam yang kejam, melainkan karena kita telah melampaui batas-batas yang telah ditetapkan-Nya.

Batas alam juga mengingatkan kita akan keterbatasan kemampuan manusia. Sekalipun kita memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, dan kekayaan yang melimpah, kita tetap tidak dapat menambah sedikit pun kemampuan alam di luar ukuran yang ada. Kita tidak dapat memperlebar sungai melebihi ketentuan tanahnya, kita tidak dapat menumbuhkan hutan dalam sekejap untuk menggantikan yang telah hilang, dan kita tidak dapat menahan pergerakan bumi ketika ia melampaui batas kestabilannya.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:23 WITA

Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Berita Terbaru

Fardinandus Erikson

Opini

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Rabu, 2 Sep 2026 - 19:43 WITA