Bencana, Apakah Membawa Berkah? - FloresPos Net - Page 4

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fardinandus Erikson

Fardinandus Erikson

Oleh karena itu, kerendahan hati adalah sikap yang paling tepat: memahami batas, hidup di dalam batas, dan tidak berani melampaui ukuran yang telah ditetapkan Tuhan kepada alam maupun terhadap sesama makhluk.

Bencana jika dipandang dari sisi batas alam adalah pengingat yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki ukuran dan batas, bahwa melampaui batas pasti mendatangkan akibat, dan bahwa kebijaksanaan manusia terletak pada kemampuannya untuk mengenali batas itu dan hidup selaras di dalamnya.

Bukan untuk menaklukkan alam semau-maunya, melainkan menjaganya sesuai batas kemampuan yang Tuhan tetapkan. Jika kita menjaga alam di dalam batas-batasnya, maka alam pun akan menjaga kita dengan penuh kedamaian dan keselamatan. Namun jika kita melampauinya, maka kembalinya keseimbangan itu akan terasa sebagai musibah yang mengingatkan kita agar kembali berjalan pada jalan yang benar dan sesuai ketentuan-Nya.

Baca Juga :  Membangun Kembali Etika dan Nilai dalam Mengatasi Wabah Korupsi

Menjawab Bencana Berdasarkan Kebebasan Alam

Alam semesta ini bergerak dan berjalan atas kebebasan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Bumi berputar, angin bertiup, air mengalir, benda langit berotasi dan berevolusi dan lempeng bumi bergerak sesuai ketentuan yang ditetapkan baginya, tanpa dapat dilarang atau dibatasi oleh kehendak manusia.

Bencana menjadi salah satu wujud kebebasan alam tersebut. Ketika alam menunjukkan kekuatannya melalui guncangan, luapan air, atau tiupan angin, hal itu bukanlah kemarahan alam kepada manusia, melainkan pernyataan bahwa alam tidak tunduk kepada makhluk, melainkan sepenuhnya tunduk kepada kehendak Tuhan Yang Memberinya kebebasan. Di hadapan kebebasan alam yang mutlak itu, kemampuan dan kekuasaan manusia tampak begitu kecil dan terbatas.

Baca Juga :  Fenomena Non-Aktif: Negosiasi antara Kekuasaan, Moral Publik dan Tekanan Sosial

Dari kebebasan alam itu pula kita diajarkan bahwa kebebasan manusia memiliki batas dan tanggung jawab. Manusia sering kali menyalahartikan kebebasan sebagai kesempatan untuk bertindak sewenang-wenang tanpa memedulikan keseimbangan lingkungan. Padahal ketika kita melanggar batas dan merusak alam, maka alam pun menjalankan kebebasannya untuk kembali kepada ketetapan Tuhan, dan itulah yang kita rasakan sebagai bencana.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:23 WITA

Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:56 WITA

Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Berita Terbaru

Fardinandus Erikson

Opini

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Rabu, 2 Sep 2026 - 19:43 WITA