Oleh karena itu, kerendahan hati adalah sikap yang paling tepat: memahami batas, hidup di dalam batas, dan tidak berani melampaui ukuran yang telah ditetapkan Tuhan kepada alam maupun terhadap sesama makhluk.
Bencana jika dipandang dari sisi batas alam adalah pengingat yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki ukuran dan batas, bahwa melampaui batas pasti mendatangkan akibat, dan bahwa kebijaksanaan manusia terletak pada kemampuannya untuk mengenali batas itu dan hidup selaras di dalamnya.
Bukan untuk menaklukkan alam semau-maunya, melainkan menjaganya sesuai batas kemampuan yang Tuhan tetapkan. Jika kita menjaga alam di dalam batas-batasnya, maka alam pun akan menjaga kita dengan penuh kedamaian dan keselamatan. Namun jika kita melampauinya, maka kembalinya keseimbangan itu akan terasa sebagai musibah yang mengingatkan kita agar kembali berjalan pada jalan yang benar dan sesuai ketentuan-Nya.
Menjawab Bencana Berdasarkan Kebebasan Alam
Alam semesta ini bergerak dan berjalan atas kebebasan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Bumi berputar, angin bertiup, air mengalir, benda langit berotasi dan berevolusi dan lempeng bumi bergerak sesuai ketentuan yang ditetapkan baginya, tanpa dapat dilarang atau dibatasi oleh kehendak manusia.
Bencana menjadi salah satu wujud kebebasan alam tersebut. Ketika alam menunjukkan kekuatannya melalui guncangan, luapan air, atau tiupan angin, hal itu bukanlah kemarahan alam kepada manusia, melainkan pernyataan bahwa alam tidak tunduk kepada makhluk, melainkan sepenuhnya tunduk kepada kehendak Tuhan Yang Memberinya kebebasan. Di hadapan kebebasan alam yang mutlak itu, kemampuan dan kekuasaan manusia tampak begitu kecil dan terbatas.
Dari kebebasan alam itu pula kita diajarkan bahwa kebebasan manusia memiliki batas dan tanggung jawab. Manusia sering kali menyalahartikan kebebasan sebagai kesempatan untuk bertindak sewenang-wenang tanpa memedulikan keseimbangan lingkungan. Padahal ketika kita melanggar batas dan merusak alam, maka alam pun menjalankan kebebasannya untuk kembali kepada ketetapan Tuhan, dan itulah yang kita rasakan sebagai bencana.










