Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu - FloresPos Net - Page 6

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rakyat harus mulai mengadopsi teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, di mana setiap kebijakan publik yang diwacanakan pemerintah wajib melewati uji kesahihan (validity claims) di ruang publik yang setara.

Kita harus mendesak agar 11 program prioritas Paket Sahabat Sejati yang tersisa segera dipresentasikan draf akademisnya secara transparan di hadapan publik dan kaum akademisi.

Jangan biarkan pemerintah bersembunyi di balik tameng alasan “sedang dalam proses” tanpa pernah menunjukkan peta jalan (roadmap) yang jelas dan rasional.

Warga Belu harus melatih diri untuk mempraktikkan skeptisisme metodis ala René Descartes dalam merespons setiap lembaran program yang disodorkan oleh penguasa.

Baca Juga :  Kebebasan Berekspresi di Ujung Tanduk

Setiap kali bupati atau wakil bupati mengumumkan sebuah program baru, pertanyaan pertama yang harus diajukan publik adalah: “Mana dasar hukumnya dan dari pos anggaran mana uangnya diambil?”

Kesadaran kritis ini penting agar publik tidak lagi mudah disihir oleh diksi-diksi bombastis yang miskin substansi ilmiah.

Pembangunan Rai Belu yang berkelanjutan tidak akan pernah lahir dari sikap tunduk-patuh terhadap kebebalan birokrasi, melainkan dari warga yang cerewet menuntut akuntabilitas publik.

Baca Juga :  Buruh Terdidik, Harapan yang Tergantung

Tanggung jawab pembangunan daerah berada di pundak warga yang berani bersuara, bukan di tangan mereka yang memilih diam menikmati sisa-sisa remah kekuasaan.

Dalam konteks inilah, keberanian media lokal seperti Nusra Inside dalam melayangkan kritik tajam harus dipandang sebagai penanda bahwa api kewarasan belum sepenuhnya padam di tapal batas.

Komunitas intelektual, organisasi mahasiswa, dan para pemuda di Kabupaten Belu harus segera merebut kembali ruang publik virtual maupun riil dari dominasi narasi pujian birokrasi.

Berita Terkait

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Larangan Merokok Sambil Mengemudi
Berita ini 73 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:33 WITA

Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:24 WITA

Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:29 WITA

Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Dampak Gempa Flores Sebabkan 3 Orang Meninggal Dunia di Sikka

Sabtu, 15 Agu 2026 - 19:39 WITA