Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu - FloresPos Net - Page 4

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Partai politik yang seharusnya berfungsi sebagai laboratorium pencerdasan bangsa justru berubah fungsi menjadi sekadar EO (Event Organizer) pencari rekomendasi dan mobilisasi massa.

Pendidikan politik sengaja dikebiri menjadi sekadar seremoni teknis pencoblosan, bukan ritual pembebasan pikiran untuk melahirkan pemilih yang merdeka secara intelektual.

Elite politik lokal tampaknya menyadari bahwa mempertahankan konstituen tetap dalam keadaan dungu adalah strategi terbaik untuk mengamankan kepatuhan elektoral secara berkala.

Akibatnya, sirkulasi kekuasaan di Kabupaten Belu hanya menghasilkan sirkus pergantian wajah penguasa tanpa pernah menaikkan kelas kecerdasan publik.

Baca Juga :  Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Ketika kurikulum pencerdasan itu absen dari institusi formal, maka panggung politik daerah akan terus dikuasai oleh para makelar janji yang gemar memanipulasi emosional warga.

Pemilu tidak lagi menjadi festival gagasan untuk mencari jalan keluar atas ketertinggalan daerah perbatasan, melainkan berubah menjadi pasar malam tempat bualan politik diobral murah.

Kita melihat bagaimana mutu demokrasi kita merosot tajam ketika perdebatan mengenai arsitektur hukum jaminan sosial digantikan oleh yel-yel kemenangan yang pragmatis.
Kegagalan pendidikan politik ini adalah akar dari segala malpraktik kebijakan yang hari ini kita saksikan dampaknya di lapangan.

Baca Juga :  Ketika Krisis Sosial Memukul Mental Masyarakat NTT, Siapa yang Bertindak?

Jika parpol terus abai mendidik warga, maka daerah ini akan terus dipimpin oleh para pemimpi yang tidak tahu cara mengeksekusi mimpinya sendiri.

Kini, buah pahit dari janji yang diumbar tanpa kajian (policy without research) itu mulai rontok satu per satu membentur tembok regulasi nasional.

Kasus “Kesehatan Gratis Plus” yang ditolak oleh aturan BPJS Kesehatan (UU No. 40/2004) adalah bukti otentik dari kebijakan prematur yang lahir dari rahim kekuasaan yang tuna-pengetahuan.

Berita Terkait

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA