Rakyat di Kabupaten Belu terjebak dalam kepasifan intelektual yang masif ketika mereka dengan mudah menelan mentah-mentah 12 janji bombastis tersebut.
Mengapa publik tidak ada yang cerewet bertanya tentang dari mana sumber Dana Rp.1 Miliar per kelurahan itu akan dipangkas?
Mengapa komunitas ojek begitu mudah terhipnotis oleh janji SIM gratis tanpa memeriksa kewenangan hukum kepolisian yang bersifat terpusat?
Kedunguan elektoral semacam inilah yang menjadi karpet merah bagi para pencari kekuasaan untuk terus memperdagangkan harapan palsu di setiap musim pemilu.
Tragedi ini mengonfirmasi kebenaran diktum sapere aude dari Immanuel Kant yang mengutuk ketidakdewasaan intelektual manusia karena ketakutan mereka sendiri untuk berpikir mandiri.
Ketika masyarakat Belu abai melakukan skeptisisme terhadap janji penguasa, mereka sebenarnya sedang mengkhianati hak kedaulatan berpikir yang mereka miliki.
Publik lebih memilih diayun oleh dongeng pengantar tidur tentang kesejahteraan instan daripada berdiri tegak menguliti rasionalitas anggaran para calon pemimpin.
Absennya tradisi menguji argumen di tingkat akar rumput membuat ruang publik kita menjadi sangat berisik oleh sorak-sorai, namun sangat sunyi dari aktivitas berpikir.
Rakyat akhirnya menjadi korban dari kemalasan kognitifnya sendiri, terjebak di dalam labirin retorika yang mereka restui di bilik suara.
Kondisi psikologi massa yang rapuh dan mudah dikelabui ini dipelihara secara sistematis oleh kegagalan total pendidikan politik di daerah.










