Oleh: Polykarp Ulin Agan
ADA perubahan bahasa yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan perubahan cara pandang yang mendalam terhadap manusia.
Dahulu, kata korban merujuk pada seseorang yang mengalami ketidakadilan, yakni pribadi yang hak, martabat, atau keselamatannya dilanggar. Kini, dalam banyak ruang sosial modern, makna itu mengalami penyempitan, bahkan berubah menjadi ejekan.
Di Jerman, misalnya, ungkapan Du Opfer! tidak lagi berarti “engkau adalah seseorang yang menjadi korban”, melainkan sebuah hinaan yang menyamakan korban dengan kelemahan, ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan.
Pergeseran bahasa ini bukan sekadar perubahan kosakata. Ia mencerminkan perubahan budaya yang lebih luas: masyarakat semakin sulit menerima kerentanan sebagai bagian yang wajar dari kondisi manusia.
Dalam budaya yang mengagungkan kekuatan, keberhasilan, dan kemandirian, kerentanan tidak lagi dipandang sebagai pengalaman manusiawi, melainkan sebagai cacat yang harus disembunyikan.
Dalam bukunya Anti Opfer – Warum wir Verletzlichkeit verachten (Anti-Korban: Mengapa Kita Meremehkan Kerentanan, 2026), Alice Hasters mengingatkan bahwa menjadi korban bukanlah identitas yang melekat pada seseorang. Menjadi korban adalah sebuah situasi, yakni pengalaman ketika seseorang mengalami ketidakadilan. Status itu menjelaskan apa yang dialami seseorang, bukan menentukan siapa dirinya.
Pembedaan ini sangat penting. Terlalu sering masyarakat mencampuradukkan pengalaman dengan identitas. Seorang penyintas kekerasan seksual dipandang seolah-olah akan selamanya menjadi “manusia korban”. Anak yang pernah mengalami perundungan dilekatkan terus-menerus pada identitas sebagai “anak korban”.
Padahal manusia tidak pernah dapat direduksi pada satu pengalaman hidupnya. Mereka tetap pribadi yang utuh, dengan kemampuan, harapan, relasi, dan masa depan yang melampaui luka yang pernah mereka alami.
Ironisnya, budaya kita justru bergerak ke arah yang berlawanan.
Kerentanan dipandang sebagai kelemahan, sedangkan kekuatan diidentikkan dengan kemampuan untuk tidak pernah terluka. Akibatnya, korban justru dibebani tuntutan yang tidak adil. Mereka diminta membuktikan bahwa dirinya layak dipercaya. Mereka diharapkan tetap tenang, konsisten, tidak emosional, dan tidak pernah melakukan kesalahan.
Padahal trauma tidak pernah bekerja secara linier. Ingatan dapat terpecah, emosi dapat berubah-ubah, bahkan respons setiap orang terhadap luka sangatlah berbeda.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










