Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi - FloresPos Net

Menjadi Korban Bukanlah Identitas Abadi

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Polykarp Ulin Agan

ADA perubahan bahasa yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan perubahan cara pandang yang mendalam terhadap manusia.

Dahulu, kata korban merujuk pada seseorang yang mengalami ketidakadilan, yakni pribadi yang hak, martabat, atau keselamatannya dilanggar. Kini, dalam banyak ruang sosial modern, makna itu mengalami penyempitan, bahkan berubah menjadi ejekan.

Di Jerman, misalnya, ungkapan Du Opfer! tidak lagi berarti “engkau adalah seseorang yang menjadi korban”, melainkan sebuah hinaan yang menyamakan korban dengan kelemahan, ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan.

Pergeseran bahasa ini bukan sekadar perubahan kosakata. Ia mencerminkan perubahan budaya yang lebih luas: masyarakat semakin sulit menerima kerentanan sebagai bagian yang wajar dari kondisi manusia.

Baca Juga :  Politik Adalah “Sakramen”

Dalam budaya yang mengagungkan kekuatan, keberhasilan, dan kemandirian, kerentanan tidak lagi dipandang sebagai pengalaman manusiawi, melainkan sebagai cacat yang harus disembunyikan.

Dalam bukunya Anti Opfer – Warum wir Verletzlichkeit verachten (Anti-Korban: Mengapa Kita Meremehkan Kerentanan, 2026), Alice Hasters mengingatkan bahwa menjadi korban bukanlah identitas yang melekat pada seseorang. Menjadi korban adalah sebuah situasi, yakni pengalaman ketika seseorang mengalami ketidakadilan. Status itu menjelaskan apa yang dialami seseorang, bukan menentukan siapa dirinya.

Pembedaan ini sangat penting. Terlalu sering masyarakat mencampuradukkan pengalaman dengan identitas. Seorang penyintas kekerasan seksual dipandang seolah-olah akan selamanya menjadi “manusia korban”. Anak yang pernah mengalami perundungan dilekatkan terus-menerus pada identitas sebagai “anak korban”.

Baca Juga :  Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan 'Rumah Sejati' dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Padahal manusia tidak pernah dapat direduksi pada satu pengalaman hidupnya. Mereka tetap pribadi yang utuh, dengan kemampuan, harapan, relasi, dan masa depan yang melampaui luka yang pernah mereka alami.
Ironisnya, budaya kita justru bergerak ke arah yang berlawanan.

Kerentanan dipandang sebagai kelemahan, sedangkan kekuatan diidentikkan dengan kemampuan untuk tidak pernah terluka. Akibatnya, korban justru dibebani tuntutan yang tidak adil. Mereka diminta membuktikan bahwa dirinya layak dipercaya. Mereka diharapkan tetap tenang, konsisten, tidak emosional, dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Padahal trauma tidak pernah bekerja secara linier. Ingatan dapat terpecah, emosi dapat berubah-ubah, bahkan respons setiap orang terhadap luka sangatlah berbeda.

Berita Terkait

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas
Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik
Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran
Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan
Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende
Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:33 WITA

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WITA

Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:26 WITA

Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende

Berita Terbaru