Transformasi Kesalehan Pribadi Menjadi Kekuatan Sosial (Merenungi Makna Isra Mikraj Perspektif Sosiologi Agama) - FloresPos Net

Transformasi Kesalehan Pribadi Menjadi Kekuatan Sosial (Merenungi Makna Isra Mikraj Perspektif Sosiologi Agama)

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

MALAM yang sunyi menjadi saksi perjalanan agung melintasi batas langit dan dimensi. Cahaya membimbing langkah Sang Nabi menuju puncak kebenaran di Sidratul Muntaha.

Perjalanan ini melampaui pertemuan ruhani dengan Sang Pencipta di singgasana tertinggi. Ada ‘pesan bumi’ yang dibawa turun bersama embun pagi untuk memperbaiki tatanan manusia. Dari ketinggian langit, terpancar nilai-nilai keadilan yang harus tegak di atas hamparan tanah.

Kisah ini adalah tentang kembali ke dunia untuk menyebarkan kedamaian bagi sesama jiwa. Peristiwa Isra Mikraj sering dibahas melalui dimensi teologis sebagai mukjizat perjalanan malam Sang Nabi.

Dari sudut pandang sosiologi agama, peristiwa ini merupakan fenomena penguat struktur masyarakat karena menyediakan kerangka nilai yang mengintegrasikan berbagai lapisan sosial. Mukjizat ini secara detail menggambarkan kemampuan luar biasa melampaui hukum ruang dan waktu yang dikenal manusia.

Baca Juga :  Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar (Sebuah Refleksi)

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menembus lapisan langit tertinggi terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Keajaiban tersebut membawa pesan otoritas ketuhanan yang mutlak sekaligus menjadi pembuktian atas kebenaran risalah kenabian di hadapan umat manusia.

Secara sosiologis, kekuatan supranatural ini berfungsi sebagai pengikat kepercayaan kolektif yang mempersatukan visi dan tujuan masyarakat dalam satu sistem keyakinan yang kokoh.

Fungsi tersebut selaras dengan gagasan Ibnu Khaldun mengenai ‘Ashabiyah’ atau solidaritas sosial. Khaldun berpendapat bahwa agama adalah kekuatan utama untuk menyatukan jiwa-jiwa manusia demi mencapai tujuan bersama. Mengapa?Melalui kesadaran kolektif tersebut, momentum ini menjadi titik balik perubahan perilaku individu secara nyata.

Baca Juga :  Kerja Keras Saja Tidak Cukup

Transformasi perilaku itu pada akhirnya berdampak langsung pada integrasi sosial umat melalui penguatan ikatan persaudaraan yang kokoh dalam kehidupan sehari-hari.

Isra Mikraj terjadi pada fase ‘Amul Huzni atau Tahun Kesedihan’ saat Nabi Muhammad SAW berada dalam titik terendah secara personal maupun sosial. Tekanan hebat dari kaum Quraisy yang disertai kehilangan dua pilar pelindung utama, Khadijah dan Abu Thalib, menciptakan ruang hampa dalam struktur dukungan beliau.

Dalam perspektif sosiologis, peristiwa ini berfungsi sebagai mekanisme pemulihan kekuatan mental yang sangat terukur untuk mengatasi dampak isolasi sosial. Mukjizat tersebut hadir untuk memulihkan kepercayaan diri serta menegaskan kembali legitimasi kepemimpinan beliau di tengah krisis legitimasi dari lingkungan sekitar.

Berita Terkait

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Berita ini 77 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Berita Terbaru

Kepsek SMA Negeri 1 Nangapanda, Simon Lowa, S.Pd (kiri) menyerahkan daging qurban kepada warga yang berhak menerimanya, Rabu (27/5/2026).

Nusa Bunga

SMA Negeri 1 Nangapanda Ukir Sejarah di Hari Raya Idul Qurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:13 WITA

Feature

Sop Sapi Rasa Ayam (Diskusi Sekenanya)

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:44 WITA

Nusa Bunga

Polres Sikka Salurkan 400 Paket Daging Kurban

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:19 WITA

Nusa Bunga

Idul Adha 1447 Hijriah di Sikka dan Pesan Menjaga Persatuan

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:57 WITA