Prabowo-Gibran Ada Jaminan Naikkan Pemilih Elektoral atau Sebaliknya? - FloresPos Net

Prabowo-Gibran Ada Jaminan Naikkan Pemilih Elektoral atau Sebaliknya?

- Jurnalis

Jumat, 20 Oktober 2023 - 11:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Marianus Gaharpung

PUBLIK bangsa hari ini dan beberapa bulan ke depan melihat “cermin” negara ini diisi oleh orang -orang yang memiliki peran sebagai berikut Pertama, ada memiliki niat tulus untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kedua, ada juga oknum oknum elit dengan kendaraan politiknya demi “melegalkan” semua kepentingan yang ujung- ujungnya kenikmatan kekuasaan.

Ketiga, ada kelompok warga dengan himpitan ekonomi, hidup pasrah negara mau dibawa kemana asal mereka dapat menyambung hidup.

Keempat, ada juga kelompok yang kerjanya jual integritas diri moralitas nilai nilai keagamaannya demi kenikmatan ekonomi.

Dari peta perangai warga bangsa saat ini terlihat sekali jika dikaitkan dengan “sandiwara” politik menjelang pemilu dan terutama pilpres 2024.

Awal hiruk pikul ini bermula dari vonis kontroversial Mahkamah Konstitusi (MK) yang memasukkan norma baru dalam Pasal 169 huruf q UU Pemilu yakni capres cawapres usia 40 tahun atau sedang dan telah menjadi kepala daerah.

Padahal memasukkan norma baru bukan kewenangan MK tetapi open legal policy pembuat undang undang DPR dan Pemerintah.

Masa 9 orang hakim MK latar belakang dokter profesor hukum tata negara tidak punya nalar yang logic argumentatif bahwa konstitusi negara sesuatu yang “sakral” bagi Indonesia tidak boleh diotak- atik semuanya.

Wajar warga tanah air mengatakan hari ini moralitas integritas hakim MK sangat rendah. Warga tidak berpendidikan melihat fenomena MK ini bisa menebak bahwa semua ini ada “orderan” tidak mungkin “cek kosong”.

Baca Juga :  Ad Multos Annos Republik Indonesia: Antara Harapan (Cita-Cita) dan Kenyataan

Oleh siapa dan untuk siapa putusan MK ini semua kita tidak bisa menebak tetapi nurani kita tidak bisa membohongi.

Dalam konteks hari ini terlihat para elit penguasa sangat keasyikan mengejar kekuasaan terlihat mulai melupakan hakekat mendirikan dan bernegara demi kesejahteraan rakyat.

Para oknum elit politik sangat asyik memikirkan bagaimana dan dengan cara apa saja rasional maupun tidak asalkan dapat merebut kekuasan di pemilu dan pilpres 2024.

Jujur saja publik tanah air merasa kecewa berat melihat tatakrama berpolitik anak anak bangsa hari ini kok bisa- bisanya batas usia minimal capres cawapres adalah sesuatu yang melebihi urusan tata kelola pemerintahan jujur, adil dan bebas dari korupsi yang menjadi prioritas?

Mengapa dalam konteks politik hari ini uji materiil batas usia minimal capres cawapres terlihat terkesan tergesah gesah menjelang pilpres?

Publik sudah kecewa dan semua mata pasti tertuju kepada Joko Widodo karena pengendali politik bernegara yang santun beradab ada di tangan presiden bukan siapa siapa.

Apapun argumentasi yang keluar dari pernyataan Joko Widodo nurani publik sudah terlanjut kecewa hari ini. Dan, pihak Prabowo dan partai pengusung suasana hari ini menjadi “keuntungan politik” karena apapun alasannya Jokowi secara “bahasa” tubuh mendukung Prabowo.

Baca Juga :  Luka yang Terulang dan Seruan yang Belum Usai

Pertanyaan publik, mengapa Prabowo tidak segera menentukan cawapresnya? Publik dibuat penasaran apa menunggu kembalinya Jokowi dari China? Apakah perlu minta restu Joko Widodo agar Gibran Rakabuming mendampingi Prabowo?

Apakah ada keyakinan dan jaminan dari Prabowo dan partai pendukung bahwa cawapres Gibran Rakabuming maka otomatis menaikkan elektoral suara publik untuk pasangan ini atau justru sebaliknya turun?

Mengingat pasca putusan MK serentak membuat publik sakit hati. Artinya jika Prabowo tetap ngotot bergandengan dengan Gibran sama saja reputasi Prabowo akan habis pada pilpres 2024.

Dan, sangat boleh jadi dalam perjalanan menuju pilpres 2024 beberapa pengurus partai pengusung terutama di daerah akan menentukan sikap berbalik mendukung Ganjar-Mahfud. Semua kemungkinan bisa terjadi dalam berpolitik.

Oleh karena itu, Gibran Rakabuming Raka tolong gunakan hati nuranimu dan ingat PDIP yang telah “menjadikan” keluargamu. Jangan karena keegoan merusak dirimu dan kepercayaan publik yang sangat bagus kepada Joko Widodo.

Karena jika anda tetap menerima lamaran Gerindra mendampingi Prabowo Subianto itu artinya dugaan publik Dinasti Joko Widodo benar ada. Ingat, rakyat masih mencintai Presiden Joko Widodo. Semoga! *

Penulis: Doson FH Ubaya Surabaya

Berita Terkait

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 April 2026 - 12:07 WITA

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Rabu, 15 April 2026 - 21:12 WITA

Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Berita Terbaru

Maria Lidia Ene

Opini

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Rabu, 22 Apr 2026 - 20:28 WITA