Oleh; Fr. Pankrasius Tevin Lory
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”
Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (Matius 9:14–15)
Perikop Injil di atas menghadirkan ketegangan teologis yang menarik. Mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa sebagaimana kaum Farisi? Jawaban Yesus cukup paradoksal. Ia tidak menolak puasa, tetapi mengubah cakrawala pemaknaan.
Ia menggunakan metafora mempelai laki-laki. Selama mempelai hadir, tidak relevan jika sahabat-sahabatnya berdukacita. Puasa baru relevan ketika mempelai diambil. Apakah Yesus menolak puasa, atau justru Ia sedang mengajarkan makna puasa yang lebih dalam?
Puasa: Pengalaman Kerinduan
Untuk memahami sabda di atas, kita perlu melihat hakikat puasa itu sendiri. Puasa bukan pertama-tama soal aturan, melainkan pengalaman kerinduan. Puasa adalah momen ketika manusia belajar merindukan Tuhan, karena dalam hidup sehari-hari kita sering merasa terpisah oleh jarak. Kesibukan, dosa, dan keterikatan pada dunia membuat Sang Mempelai terasa jauh.
Dalam jarak itulah lahir kerinduan, dan dari kerinduan muncul pencarian akan Tuhan. Ekspresi konkret dari pengalaman adalah puasa. Puasa menjadikan tubuh turut ambil bagian dalam pencarian spiritual. Dengan menahan kebutuhan dasar, manusia mengakui bahwa hidupnya tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan material.
Dalam konteks Injil hari ini, situasinya berbeda. Yang dirindukan itu justru sedang hadir. Kerinduan selalu tumbuh dari jarak. Orang tidak mungkin merindukan sesuatu yang ada di depan matanya.
Betapa sering manusia tetap hidup dalam mode merindukan, bahkan ketika anugerah sudah berdiri di depannya. Kita terus mengirim pesan rindu kepada langit, padahal Sang Mempelai sedang berdiri di samping kita.
Analoginya seperti sepasang kekasih yang menjalani cinta LDR (Long Distance Relationship). Katakanlah si A menjalani cinta LDR dengan pacarnya. Cinta si A dengan pacarnya terpisah oleh jarak. Jarak itu membuat mereka saling merindukan satu sama lain. Si A sibuk dengan studinya, sedangkan pacarnya sibuk dengan kuliahnya.
Mereka hanya bisa terhubung melalui WhatsApp, sambil mengirim pesan rindu dan emot sendu. Ketika akhirnya pacarnya datang berkunjung, reaksi pertama adalah pelukan atau sekurang-kurangnya salaman. Saat itu rindu menjadi tidak relevan. Yang ada hanyalah sukacita perjumpaan. Tidak mungkin di tengah obrolan mesra, si A diam-diam mengambil HP lalu mengirim pesan: “Saya rindu kamu,” plus emot sendu.
Ini yang terjadi dalam narasi injil hari ini. Relasi manusia dengan Allah bukan lagi kerinduan tanpa akhir, melainkan perjumpaan yang sedang berlangsung. Di sini agama berubah dari proyek manusia mencari Tuhan menjadi pengalaman Tuhan yang lebih dahulu mendekat kepada manusia.
Hal ini senada dengan gagasan Karl Rahner tentang manusia sebagai hearer of the Word, manusia selalu sudah disapa oleh Allah sebelum ia mencari-Nya (Karl Rahner, Foundations of Christian Faith, 1978). Ketika Sang Mempelai hadir, puasa kehilangan fungsi simboliknya, sebab simbol penantian tidak diperlukan dalam situasi perjumpaan. Dalam konteks ini, agama berubah dari etika kewajiban menuju pengalaman relasional.
Sang Mempelai ada di tengah mereka. Maka berpuasa dalam suasana perjumpaan menjadi tidak selaras dengan maknanya. Sebab puasa adalah tanda penantian, sedangkan kehadiran Sang Mempelai adalah saat perayaan. Tidak ada orang yang meratap ketika perayaan sedang berlangsung.
Manusia bertanya, “Berapa kali harus berpuasa?” Yesus menjawab, “Siapa yang sedang bersamamu?”
Ketika Sang Mempelai Pergi
Setelah kehadiran fisik Kristus berlalu, para murid kembali hidup dalam ruang kerinduan. Yesus berkata: akan datang waktunya Sang Mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Di sini tersimpan misteri iman Kristiani. Setelah kehadiran-Nya secara fisik berlalu, manusia kembali hidup dalam kerinduan.
Saat pacar si A harus kembali ke tempatnya, maka mereka kembali terpisah oleh jarak. Mereka kembali LDR dan rindu menjadi bahasa yang paling relevan. Gereja hidup di antara dua waktu, antara perjumpaan yang telah terjadi dan kepenuhan perjumpaan yang masih dinantikan. Sebab iman yang sejati tahu kapan harus merindu, dan kapan harus bersukacita karena Sang Mempelai telah datang.
Puasa kehilangan maknanya ketika manusia lupa bahwa tujuan akhirnya adalah perjumpaan. Di sini Injil memperkenalkan sesuatu yang lain, yaitu bahwa relasi lebih utama daripada ritus.
Puasa atau Diet Religius
Prapaskah bukan musim untuk “menyiksa diri” agar Tuhan senang. Yesus justru sedang memperingatkan bahaya itu. Yang sebenarnya hendak disampaikan Tuhan ialah, “Apakah puasa masih merupakan jalan religius menuju Tuhan, ataukah ia telah berubah menjadi diet yang diberi legitimasi agama?”
Puasa tidak ditolak, tetapi dimurnikan. Yang dipersoalkan bukan tindakan berpuasa, melainkan motivasi yang terlepas dari relasi dengan Tuhan dan sesama. Ketika puasa menjadi sarana pembenaran diri atau identitas sosial, ia berhenti menjadi jembatan kerinduan.
Michel Foucault dalam Discipline and Punish (1975), menjelaskan bagaimana tubuh manusia diatur, diawasi, dan dibentuk oleh sistem sosial modern. Tubuh berubah menjadi objek pengawasan sosial (biopower). Kontrol ini bekerja melalui regulasi sehari-hari seperti pola makan, standar kesehatan, serta ideal tubuh yang dianggap normal atau sempurna.
Tubuh menjadi proyek yang harus terus diperbaiki (Michel Foucault, The History of Sexuality, 1976). Nilai moral secara diam-diam dilekatkan pada penampilan fisik. Tubuh sehat dianggap disiplin, tubuh ideal dianggap berhasil.
Bahaya serupa dapat terjadi dalam praktik puasa religius. Puasa religius dapat bergeser dari pengalaman spiritual menjadi performa sosial atau tanda kesalehan publik. Seseorang berpuasa agar terlihat religius, diakui komunitas, atau merasa lebih bermoral dibanding orang lain.
Ketika motivasi ini dominan, puasa tidak lagi menjadi gerak menuju Allah, melainkan mekanisme pembentukan citra diri. Puasa kehilangan roh asketisnya dan berubah menjadi diet religius atau disiplin tubuh tanpa transformasi batin. Puasa memang melibatkan tubuh, tetapi tujuannya melampaui tubuh.
Antara Rahmat dan Kebebasan
Allah hadir lebih dahulu, tetapi manusia dipanggil untuk menanggapi kehadiran itu melalui pertobatan konkret. Søren Kierkegaard dalam Fear and Trembling (1843) menegaskan, iman tidak pernah dapat diwarisi secara sosial atau direduksi menjadi kepatuhan institusional. Iman selalu merupakan keputusan subjektif yang lahir dari kebebasan individu.
Puasa memperoleh makna autentiknya ketika ia lahir dari kesadaran relasional, bukan dari tekanan norma religius. Puasa menjadi ekspresi kebebasan batin yang diarahkan kepada Yang Transenden, bukan sekadar kepatuhan terhadap ritus. Puasa yang sejati harus menghasilkan kesiapsediaan untuk diubah oleh perjumpaan dengan Allah yang terus mendekat dalam sejarah manusia.
Jika hanya rahmat yang ditekankan, manusia menjadi pasif. Jika hanya kebebasan yang ditekankan, iman berubah menjadi proyek moral manusia. Dialektika ini menunjukkan bahwa relasi dengan Allah bersifat dialogis. Rahmat membuka kemungkinan perjumpaan, sedangkan kebebasan memungkinkan respons personal.
Kehadiran Kristus di tengah murid-murid-Nya menandai inisiatif Allah yang mendahului usaha manusia. Para murid tidak berpuasa, bukan karena kelalaian spiritual, melainkan konsekuensi logis dari pengalaman rahmat yang sedang berlangsung.
Di sini tampak keseimbangan antara rahmat dan kebebasan. Rahmat hadir dalam pribadi Yesus sebagai Sang Mempelai. Para murid tidak menciptakan perjumpaan itu, mereka hanya menerimanya. Kebebasan mereka diwujudkan bukan dalam praktik puasa, melainkan dalam kesediaan tinggal bersama Dia.
Dengan kata lain, respons iman pada saat itu bukan dengan berpuasa, melainkan partisipasi dalam sukacita kehadiran Allah. Mereka tidak berpuasa justru karena mereka berada dalam relasi langsung dengan sumber iman itu sendiri.*










