Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia) - FloresPos Net

Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

SETIAP tanggal 5 Juni, umat manusia seolah menarik napas panjang, membiarkan laju peradaban melambat sejenak. Namun, jeda ini tak boleh larut dalam seremoni tanpa makna.

Di balik gemerlap kehidupan modern, ‘tanah yang merintih’ telah melampaui kiasan puitis; ia kini berdiri tegak sebagai fakta ilmiah yang tak terbantahkan.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2023) mengonfirmasi bahwa suhu global telah meningkat 1,1°C hingga 1,2°C di atas ambang pra-industri.

Di tengah gelombang krisis ini, Ensiklik Laudato Si’ (2015) karya Paus Fransiskus hadir bagai pelita di tengah kabut, menegaskan kembali panggilan mendesak untuk memulihkan martabat ciptaan.

Baca Juga :  Pemimpin dan Transformasi Roh Sang Pemimpin

Paus Fransiskus mengajak kita memandang bumi sebagai ‘Rumah Bersama’ yang hidup. Bumi bernapas, menuai kehidupan, dan dengan sabar menanti sentuhan tangan yang merawatnya dengan kasih dan tanggung jawab.

Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus secara tajam menyoroti bahwa degradasi lingkungan dan perubahan iklim bukanlah fenomena alam yang netral. Ia merupakan ‘buah langsung’ dari keserakahan manusia yang secara membabi buta mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek.

Kritik profetis ini membongkar akar permasalahan dari sistem ekonomi global yang eksploitatif. Hal mana, alam direduksi menjadi komoditas tanpa mempertimbangkan daya dukungnya.

Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali ini tidak hanya menghancurkan keseimbangan ekosistem secara permanen. Ia juga secara sistematis memperlebar jurang ketidakadilan sosial, menciptakan derita yang mendalam pada tatanan kehidupan bersama.

Baca Juga :  Politik Cinta: Bagaimana Empati Bisa Mengubah Lanskap Politik Kita

Klaim teologis ini divalidasi oleh data ketidakadilan iklim global yang mencengangkan. Menurut laporan Oxfam (2023) yang juga menjadi rujukan Program Pembangunan PBB (UNDP), 50 persen penduduk termiskin di dunia hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total emisi karbon global.

Ironisnya, data Bank Dunia (2022) mempertegas bahwa merekalah pihak yang paling rentan dan pertama kali merasakan dampak brutal dari bencana iklim, mulai dari gagal panen, banjir bandang, hingga kekeringan berkepanjangan.

Berita Terkait

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 12:58 WITA

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Kamis, 10 September 2026 - 19:11 WITA

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Opini

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:58 WITA