Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
SETIAP tanggal 5 Juni, umat manusia seolah menarik napas panjang, membiarkan laju peradaban melambat sejenak. Namun, jeda ini tak boleh larut dalam seremoni tanpa makna.
Di balik gemerlap kehidupan modern, ‘tanah yang merintih’ telah melampaui kiasan puitis; ia kini berdiri tegak sebagai fakta ilmiah yang tak terbantahkan.
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2023) mengonfirmasi bahwa suhu global telah meningkat 1,1°C hingga 1,2°C di atas ambang pra-industri.
Di tengah gelombang krisis ini, Ensiklik Laudato Si’ (2015) karya Paus Fransiskus hadir bagai pelita di tengah kabut, menegaskan kembali panggilan mendesak untuk memulihkan martabat ciptaan.
Paus Fransiskus mengajak kita memandang bumi sebagai ‘Rumah Bersama’ yang hidup. Bumi bernapas, menuai kehidupan, dan dengan sabar menanti sentuhan tangan yang merawatnya dengan kasih dan tanggung jawab.
Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus secara tajam menyoroti bahwa degradasi lingkungan dan perubahan iklim bukanlah fenomena alam yang netral. Ia merupakan ‘buah langsung’ dari keserakahan manusia yang secara membabi buta mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek.
Kritik profetis ini membongkar akar permasalahan dari sistem ekonomi global yang eksploitatif. Hal mana, alam direduksi menjadi komoditas tanpa mempertimbangkan daya dukungnya.
Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali ini tidak hanya menghancurkan keseimbangan ekosistem secara permanen. Ia juga secara sistematis memperlebar jurang ketidakadilan sosial, menciptakan derita yang mendalam pada tatanan kehidupan bersama.
Klaim teologis ini divalidasi oleh data ketidakadilan iklim global yang mencengangkan. Menurut laporan Oxfam (2023) yang juga menjadi rujukan Program Pembangunan PBB (UNDP), 50 persen penduduk termiskin di dunia hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total emisi karbon global.
Ironisnya, data Bank Dunia (2022) mempertegas bahwa merekalah pihak yang paling rentan dan pertama kali merasakan dampak brutal dari bencana iklim, mulai dari gagal panen, banjir bandang, hingga kekeringan berkepanjangan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










