UNESCO, melalui kerangka Education for Sustainable Development (ESD), juga menegaskan bahwa pendidikan harus membekali generasi muda dengan kesadaran ekologis, bukan hanya pengetahuan kognitif, tetapi juga empati terhadap alam.
Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026 ini, marilah kita mengambil jeda untuk menatap ke dalam diri. Data-data kerusakan lingkungan yang masif adalah cermin dari krisis etika dan spiritual yang sedang kita alami. Hari ini hendaknya menjadi momentum untuk mengakui bahwa kita bukanlah penguasa semesta, melainkan penjaga (stewards) yang dipercayakan merawat keindahan ciptaan.
Jika eksploitasi lingkungan adalah manifestasi dari dosa struktural, maka merawat bumi adalah bentuk “pertobatan ekologis” yang paling hakiki.
Ini adalah perjalanan kembali menuju harmoni, di mana manusia dan alam tidak lagi saling memangsa, melainkan berdansa dalam keseimbangan yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta sejak awal mula. *
Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa, Ende










