Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan - FloresPos Net

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S. Fil

HARI-hari ini, panggung politik kita kerap menyuguhkan drama teatrikal yang melelahkan.

Kekuasaan sering kali dipahami sebagai ruang kontestasi sirkular untuk menimbun, mengamankan eksistensi elitis, dan memperbesar ego kelompok.

Di tengah rimba raya politik yang bercorak ekstraktif dan transaksional seperti itu, perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada Minggu, 7 Juni 2026, hadir bukan sekadar sebagai ritus liturgis yang sunyi di dalam batas-batasan ruang altar.

Bagi saya, peristiwa spiritual ini adalah sebuah manifesto radikal yang membalikkan seluruh logika dasar tentang bagaimana seharusnya kekuasaan diletakkan, diurai, dan diwujudnyatakan.

Baca Juga :  NTT Darurat Human Trafficking: Ketika Manusia Dijadikan Komoditas

Jika kita menengok jauh ke dalam Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini maka kita akan menemukan satu diktum teologis yang fundamental: Yesus adalah “Roti Pemberi Hidup Kekal” (Panis Vitae).

Roti yang turun dari surga ini bukanlah komoditas yang tunduk pada hukum pasar atau alat hegemoni spiritual, melainkan sebuah totalitas penyerahan diri secara cuma-cuma demi eksistensi manusia.

Ketika narasi teologis ini ditarik secara dialektis ke dalam wilayah sekuler ke atas meja kerja para pengambil kebijakan dan para pamong publik ia bertransformasi menjadi sebuah kritik ideologis yang tajam terhadap teori-teori politik klasik yang hari ini kita amini secara buta.

Baca Juga :  Pandangan Gereja Terhadap Perbedaan Agama Dalam Terang Nostra Aetate

Secara teoritis, jika kita menengok lanskap filsafat politik barat, kekuasaan negara hampir selalu dibangun di atas fondasi ketakutan dan penguasaan.

Thomas Hobbes dalam Leviathan menegaskan bahwa kekuasaan absolut diperlukan karena manusia pada dasarnya adalah homo homini lupus (serigala bagi sesamanya).

Dalam kacamata Hobbesian, esensi kekuasaan adalah akumulasi kekuatan koersif demi menciptakan ketertiban dari kekacauan.

Berita Terkait

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang
Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi
Menimbang Etika Politik Pilkades
Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:07 WITA

Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:10 WITA

Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Bulog Ende Targetkan Serap 64 Ton Beras Petani Lokal

Senin, 13 Jul 2026 - 15:35 WITA

Nusa Bunga

Bupati Nagekeo Lantik 81 Pejabat Administrator dan Pengawas

Senin, 13 Jul 2026 - 11:47 WITA