Kekuasaan adalah sebuah mandat moral yang suci, dan kesuciannya hanya akan tetap terjaga sepanjang ia dijalankan dengan spirit pelayanan yang ekaristis.
Menutup refleksi filosofis ini, mari kita tanamkan dalam kesadaran kolektif bahwa esensi tertinggi dari sebuah kepemimpinan bukanlah tentang seberapa lama seorang penguasa mampu bertahan di puncak piramida takhta kekuasaannya.
Kekuasaan yang akan abadi dan hidup dalam memori sanubari rakyat adalah kekuasaan yang berani mengosongkan diri, hancur bagai roti yang dipecah-pecah, namun berhasil melahirkan kehidupan, keadilan, dan fajar martabat yang baru bagi banyak orang.
Di sanalah, dan hanya di sanalah, esensi “Roti Pemberi Hidup” itu mewujud nyata secara radikal di atas bumi pertiwi. *
Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik asal Belu, NTT.










