Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan - FloresPos Net - Page 6

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika polarisasi politik dan egoisme sektarian mengancam integrasi kebangsaan kita, kita membutuhkan perekat sosial yang autentik.

Dan perekat itu tidak akan pernah bisa lahir dari instruksi kekuasaan yang bersifat top-down dan represif, melainkan dari keteladanan hidup para pemimpin yang mau berkorban; pemimpin yang secara sadar memosisikan dirinya sebagai bagian dari tubuh sosial masyarakat yang sedang didera penderitaan.

Setiap regulasi, undang-undang, maupun kebijakan yang dilahirkan oleh rahim kekuasaan harus mengandung “darah kehidupan” yang mampu menginjeksikan energi baru bagi peningkatan kualitas pelayanan publik.

Birokrasi tidak boleh dibiarkan membatu menjadi sebuah labirin regulasi yang kaku, dingin, dan mematikan inisiatif-inisiatif kreatif warganya.

Baca Juga :  Dari Abu Dhabi Menuju Asisi dan Dari Roma Menuju Indonesia

Struktur pemerintahan harus hidup, bergerak adaptif, dan dipenuhi oleh empati sosial yang peka, laksana sebuah tubuh yang utuh yang akan langsung merasakan sakit ketika salah satu anggotanya yang paling kecil sekalipun mengalami cedera.

Pada akhirnya, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada Minggu, 7 Juni 2026, bukanlah sekadar penanda seremonial di dalam kalender liturgi tahunan.

Ia adalah sebuah interupsi etis bagi kita semua, terutama bagi mereka yang memegang kendali atas nasib hidup orang banyak.

Ini adalah momentum sakral untuk memeriksa kembali isi lambung kekuasaan kita masing-masing: apakah kita sedang sibuk mengenyangkan ego dan kelompok sendiri di atas kelaparan struktural sesama, ataukah kita sedang belajar bertransformasi menjadi roti yang siap dipecah demi menghidupkan kemanusiaan?

Baca Juga :  Orang Pintar Restui Tindakan Main Hakim Sendiri (PT Krisrama Pelanggar HAM atau Sebenarnya Korban?)

Filsafat politik yang sejati tidak akan pernah ditemukan di dalam dinginnya teks-teks akademis yang berdebu atau di dalam kemewahan ruang sidang yang formal.

Ia hidup, berdenyut, dan diuji di dalam komitmen moral yang tak tergoyahkan untuk selalu memperlakukan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan semata-mata sebagai sarana atau komoditas politik untuk meraih kekuasaan—sebagaimana yang diperingatkan oleh Immanuel Kant melalui prinsip imperatif kategorisnya.

Berita Terkait

Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung
Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Berita ini 90 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:58 WITA

Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:34 WITA

Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:50 WITA

Merdeka di Tanah Bergetar

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Club Renang Mbira Mera Ende Kembali Kirim 2 Atlet ke Bangkok

Senin, 24 Agu 2026 - 11:17 WITA