Oleh: Maria Yosi Noviyani, SKM
MENURUT Suvei American Psychiatric Association (2023), 1 dari 4 orang dewasa pernah menggunakan media sosial untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mereka sendiri.
Di Indonesia dengan lebih dari 150 juta pengguna aktif TikTok, angka tersebut diperkirakan tidak jauh berbeda. Tren self-diagnosis berbasis konten media sosial kini menjadi persoalan serius yang tidak bisa diabaikan.
Mungkin kamu pernah tanpa sengaja menonton video di TikTok tentang gejala suatu penyakit misalnya GERD kemudian tiba-tiba bertanya, “tunggu, ini mirip sekali dengan yang aku rasakan”? Atau mungkin kamu pernah mencari tahu tentang anxiety, penyakit autoimun, atau kondisi lainnya lalu mulai mencocokkan informasi itu dengan kondisi tubuh dan perasaanmu sendiri?
Kalau pernah, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Dan justru di sinilah persoalan itu bermula, bukan karena kamu lemah atau mudah terpengaruh melainkan karena rasa relate terhadap konten kesehatan adalah respons yang sangat manusiawi.
Inilah yang membuat literasi kesehatan digital menjadi begitu penting untuk dimiliki sejak dini, idealnya sudah diperkenalkan sejak di bangku sekolah agar generasi muda mampu membedakan informasi medis yang sahih dari sekadar konten yang terasa relevan secara emosional.
Ketimpangan Akses: Akar Masalah Yang Nyata
Kita hidup di era ketika informasi tentang kesehatan tersedia di mana-mana, kapan saja, dan sering kali tanpa biaya,sementara disisi lain biaya konsultasi medis masih menjadi beban bagi.banyak kalangan, antrian di fasilitas kesehatan pun bisa memakan waktu yang sangat panjang. Ditambah lagi rasa sungkan atau takut kerap membuat sebagian orang menunda pemeriksaan.
Sementara itu, ribuan konten kesehatan hadir dengan tampilan yang mudah dicerna, menarik, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa akar masalah bukan semata soal perilaku individu, melainkan juga soal ketimpangan akses layanan kesehatan yang nyata, untuk itulah mengapa pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer sehingga dapat memperluas jangkauan, menekan biaya konsultasi dan mempersingkat waktu tunggu agar masyarakat tidak lagi menjadikan media sosial sebagai alternatif karena tidak ada pilihan yang lebih terjangkau.
Algoritma Dirancang Untuk Membuat Kita Terus Menonton
Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dirancang dengan satu tujuan utama yaitu membuat penggunanya terus menonton. Mekanisme algoritma bekerja dengan menampilkan konten yang kamu sukai dan minati bukan konten yang kamu butuhkan.
Begitu kamu menonton satu video tentang GERD, platform akan terus menyajikan puluhan konten serupa, akibatnya informasi yang masuk terasa semakin meyakinkan seolah – olah semua gejala yang disebutkan benar-benar ada pada dirimu padahal belum tentu demikian secara medis.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










