Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial - FloresPos Net

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Maria Yosi Noviyani, SKM

MENURUT Suvei American Psychiatric Association (2023), 1 dari 4 orang dewasa pernah menggunakan media sosial untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mereka sendiri.

Di Indonesia dengan lebih dari 150 juta pengguna aktif TikTok, angka tersebut diperkirakan tidak jauh berbeda. Tren self-diagnosis berbasis konten media sosial kini menjadi persoalan serius yang tidak bisa diabaikan.

Mungkin kamu pernah tanpa sengaja menonton video di TikTok tentang gejala suatu penyakit misalnya GERD kemudian tiba-tiba bertanya, “tunggu, ini mirip sekali dengan yang aku rasakan”? Atau mungkin kamu pernah mencari tahu tentang anxiety, penyakit autoimun, atau kondisi lainnya lalu mulai mencocokkan informasi itu dengan kondisi tubuh dan perasaanmu sendiri?

Kalau pernah, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Dan justru di sinilah persoalan itu bermula, bukan karena kamu lemah atau mudah terpengaruh melainkan karena rasa relate terhadap konten kesehatan adalah respons yang sangat manusiawi.

Baca Juga :  Pengadilan Jempol

Inilah yang membuat literasi kesehatan digital menjadi begitu penting untuk dimiliki sejak dini, idealnya sudah diperkenalkan sejak di bangku sekolah agar generasi muda mampu membedakan informasi medis yang sahih dari sekadar konten yang terasa relevan secara emosional.

Ketimpangan Akses: Akar Masalah Yang Nyata

Kita hidup di era ketika informasi tentang kesehatan tersedia di mana-mana, kapan saja, dan sering kali tanpa biaya,sementara disisi lain biaya konsultasi medis masih menjadi beban bagi.banyak kalangan, antrian di fasilitas kesehatan pun bisa memakan waktu yang sangat panjang. Ditambah lagi rasa sungkan atau takut kerap membuat sebagian orang menunda pemeriksaan.

Sementara itu, ribuan konten kesehatan hadir dengan tampilan yang mudah dicerna, menarik, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini menunjukkan bahwa akar masalah bukan semata soal perilaku individu, melainkan juga soal ketimpangan akses layanan kesehatan yang nyata, untuk itulah mengapa pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer sehingga dapat memperluas jangkauan, menekan biaya konsultasi dan mempersingkat waktu tunggu agar masyarakat tidak lagi menjadikan media sosial sebagai alternatif karena tidak ada pilihan yang lebih terjangkau.

Baca Juga :  Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Algoritma Dirancang Untuk Membuat Kita Terus Menonton

Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dirancang dengan satu tujuan utama yaitu membuat penggunanya terus menonton. Mekanisme algoritma bekerja dengan menampilkan konten yang kamu sukai dan minati bukan konten yang kamu butuhkan.

Begitu kamu menonton satu video tentang GERD, platform akan terus menyajikan puluhan konten serupa, akibatnya informasi yang masuk terasa semakin meyakinkan seolah – olah semua gejala yang disebutkan benar-benar ada pada dirimu padahal belum tentu demikian secara medis.

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 362 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru

Advertorial

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 Sep 2026 - 20:11 WITA