Kemampuan berpikir kritis seperti inilah yang perlu dibudayakan secara lebih luas melalui kurikulum formal di sekolah, program pelatihan komunitas, hingga gerakan literasi digital yang melibatkan organisasi masyarakat umum sebagai agen edukasi di lapangan.
Tumbuhnya kesadaran tentang kesehatan mental dan fisik melalui media sosial adalah sebuah kemajuan yang nyata. Kini kita lebih berani berbicara, lebih terbuka mencari tahu dan lebih merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalah. Namun kesadaran bukanlah diagnosis pasti, merasa relate tidak berarti sakit. Dan “menurut TikTok” tidak bisa menggantikan “menurut dokter.”
Tubuh dan pikiran kita terlalu berharga untuk diserahkan kepada logika algoritma. Jika ada yang terasa tidak beres, jangan tunda datangi, bicarakan dan periksakan kepada profesional
karena yang kamu butuhkan bukan konten yang mempertegas ketakutanmu, melainkan seseorang yang benar-benar mampu membantumu.
Agar lebih banyak orang yang berani mengambil langkah itu, kita semua perlu bersama-sama membangun budaya help-seeking yang kuat yaitu sebuah budaya dimana mencari bantuan
profesional dipandang sebagai keberanian, bukan kelemahan yang didukung oleh kebijakan yang menjamin layanan kesehatan khususnya kesehatan mental serta dapat diakses secara merata, terjangkau, dan tanpa diskriminasi oleh seluruh lapisan masyarakat.
Penulis adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada.










