Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial - FloresPos Net - Page 3

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemampuan berpikir kritis seperti inilah yang perlu dibudayakan secara lebih luas melalui kurikulum formal di sekolah, program pelatihan komunitas, hingga gerakan literasi digital yang melibatkan organisasi masyarakat umum sebagai agen edukasi di lapangan.

Tumbuhnya kesadaran tentang kesehatan mental dan fisik melalui media sosial adalah sebuah kemajuan yang nyata. Kini kita lebih berani berbicara, lebih terbuka mencari tahu dan lebih merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalah. Namun kesadaran bukanlah diagnosis pasti, merasa relate tidak berarti sakit. Dan “menurut TikTok” tidak bisa menggantikan “menurut dokter.”

Baca Juga :  Reformasi Partai Politik

Tubuh dan pikiran kita terlalu berharga untuk diserahkan kepada logika algoritma. Jika ada yang terasa tidak beres, jangan tunda datangi, bicarakan dan periksakan kepada profesional
karena yang kamu butuhkan bukan konten yang mempertegas ketakutanmu, melainkan seseorang yang benar-benar mampu membantumu.

Agar lebih banyak orang yang berani mengambil langkah itu, kita semua perlu bersama-sama membangun budaya help-seeking yang kuat yaitu sebuah budaya dimana mencari bantuan
profesional dipandang sebagai keberanian, bukan kelemahan yang didukung oleh kebijakan yang menjamin layanan kesehatan khususnya kesehatan mental serta dapat diakses secara merata, terjangkau, dan tanpa diskriminasi oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga :  Remaja Kita, Lumpur Derita dan Bunga Seroja

Penulis adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada.

Berita Terkait

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’
Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan
Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma
Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global
Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Berita ini 348 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:29 WITA

Memori Kolektif dan Siklus Konflik dalam ‘Yang Runtuh Lalu Satu’

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:25 WITA

Milenial Keru-Baki dan Ikhtiar Merawat Persaudaraan

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:17 WITA

Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Weekend Sekami–‘Anak-anak Menjadi Pelopor Perlindungan’

Senin, 3 Agu 2026 - 20:20 WITA

Nusa Bunga

Harga Cabe Rawit di Manggarai Barat 70 Ribu Per Kilogram

Senin, 3 Agu 2026 - 14:08 WITA