Maka dari itu, diperlukan regulasi yang lebih tegas terhadap distribusi konten kesehatan di ruang digital. Lembaga pengawas media dan kementerian kesehatan perlu mendorong platform untuk menerapkan label peringatan pada konten medis yang tidak dibuat oleh tenaga kesehatan berlisensi, sekaligus mewajibkan sistem rekomendasi yang secara aktif mengarahkan pengguna untuk berkonsultasi dengan profesional.
Risiko Nyata Self Diagnosis
Banyak gejala penyakit yang tampak serupa namun bisa berasal dari penyebab yang berbeda. Menegakkan diagnosis yang tepat membutuhkan riwayat medis yang lengkap, pemeriksaan fisik, kadang uji laboratorium, bahkan wawancara klinis yang mendalam. Self-diagnosis berisiko memicu kecemasan berlebih, alih-alih merasa tenang seseorang justru semakin yakin bahwa ada yang salah dengan tubuhnya bahkan untuk gejala yang sebetulnya normal.
Lebih jauh lagi, hal ini dapat berujung pada penanganan yang keliru seperti mengonsumsi suplemen tanpa resep atau menolak bantuan medis karena merasa sudah tahu diagnosisnya sendiri.
Menghadapi risiko ini, organisasi profesi kesehatan seperti IDI dan PDSKJI (Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) perlu mengambil peran yang lebih aktif, tidak hanya melalui siaran pers tetapi melalui program edukasi publik yang menjangkau komunitas secara langsung dan hadir di platform digital dengan format yang sama menariknya dengan konten hiburan agar pesannya benar-benar sampai kepada mereka yang paling
membutuhkan.
Fenomena Bias Konfirmasi Dan Penundaan Bantuan Medis
Di berbagai negara, tenaga medis mulai melaporkan peningkatan jumlah pasien yang datang dengan keyakinan kuat akan diagnosis tertentu yang terbentuk dari konten media sosial.
Sebagian memang tepat namun tidak sedikit yang keliru. Yang lebih mengkhawatirkan, ada yang justru menunda datang ke dokter karena merasa sudah tahu jawabannya dan
memutuskan tidak lagi mencari bantuan profesional melainkan mencari konten yang mempertegas apa yang sudah mereka percayai.
Inilah yang disebut bias konfirmasi dan algoritma media sosial sangat efektif mengeksploitasinya. Untuk memutuskan pola ini dibutuhkan kolaborasi lintas sektor antara platform digital, tenaga kesehatan, dan lembaga pendidikan.
Salah satu langkah konkretnya
adalah mendorong platform untuk secara aktif menampilkan konten dari tenaga kesehatan terverifikasi sebagai penyeimbang ketika pengguna menelusuri topik medis tertentu.
Cara Bijak Mengonsumsi Konten
Kesehatan Hal ini bukan berarti kita harus berhenti mengonsumsi konten kesehatan di media sosial karena banyak konten yang memang informatif, empatik, dan bermanfaat terutama yang mendorong audiens untuk tetap mencari bantuan profesional, bukan menggantikannya.
Yang perlu dijaga adalah cara kita mengaksesnya misalnya menggunakan konten sebagai pintu masuk yang mendorong kita pergi ke dokter, bukan sebagai kesimpulan akhir. Kemudian perhatikan siapa yang berbicara apakah tenaga medis berlisensi atau sekadar orang awam yang ingin viral. Dari mana sumber datanya? Ingat, pengalaman pribadi seseorang tidak bisa dijadikan acuan medis bagi orang lain.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










