Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial - FloresPos Net - Page 2

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maka dari itu, diperlukan regulasi yang lebih tegas terhadap distribusi konten kesehatan di ruang digital. Lembaga pengawas media dan kementerian kesehatan perlu mendorong platform untuk menerapkan label peringatan pada konten medis yang tidak dibuat oleh tenaga kesehatan berlisensi, sekaligus mewajibkan sistem rekomendasi yang secara aktif mengarahkan pengguna untuk berkonsultasi dengan profesional.

Risiko Nyata Self Diagnosis

Banyak gejala penyakit yang tampak serupa namun bisa berasal dari penyebab yang berbeda. Menegakkan diagnosis yang tepat membutuhkan riwayat medis yang lengkap, pemeriksaan fisik, kadang uji laboratorium, bahkan wawancara klinis yang mendalam. Self-diagnosis berisiko memicu kecemasan berlebih, alih-alih merasa tenang seseorang justru semakin yakin bahwa ada yang salah dengan tubuhnya bahkan untuk gejala yang sebetulnya normal.

Lebih jauh lagi, hal ini dapat berujung pada penanganan yang keliru seperti mengonsumsi suplemen tanpa resep atau menolak bantuan medis karena merasa sudah tahu diagnosisnya sendiri.

Baca Juga :  Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Menghadapi risiko ini, organisasi profesi kesehatan seperti IDI dan PDSKJI (Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) perlu mengambil peran yang lebih aktif, tidak hanya melalui siaran pers tetapi melalui program edukasi publik yang menjangkau komunitas secara langsung dan hadir di platform digital dengan format yang sama menariknya dengan konten hiburan agar pesannya benar-benar sampai kepada mereka yang paling
membutuhkan.

Fenomena Bias Konfirmasi Dan Penundaan Bantuan Medis

Di berbagai negara, tenaga medis mulai melaporkan peningkatan jumlah pasien yang datang dengan keyakinan kuat akan diagnosis tertentu yang terbentuk dari konten media sosial.

Sebagian memang tepat namun tidak sedikit yang keliru. Yang lebih mengkhawatirkan, ada yang justru menunda datang ke dokter karena merasa sudah tahu jawabannya dan
memutuskan tidak lagi mencari bantuan profesional melainkan mencari konten yang mempertegas apa yang sudah mereka percayai.

Inilah yang disebut bias konfirmasi dan algoritma media sosial sangat efektif mengeksploitasinya. Untuk memutuskan pola ini dibutuhkan kolaborasi lintas sektor antara platform digital, tenaga kesehatan, dan lembaga pendidikan.

Baca Juga :  Menutup Tahun dengan Refleksi: 10 Perenungan Guru di Akhir Semester

Salah satu langkah konkretnya
adalah mendorong platform untuk secara aktif menampilkan konten dari tenaga kesehatan terverifikasi sebagai penyeimbang ketika pengguna menelusuri topik medis tertentu.

Cara Bijak Mengonsumsi Konten

Kesehatan Hal ini bukan berarti kita harus berhenti mengonsumsi konten kesehatan di media sosial karena banyak konten yang memang informatif, empatik, dan bermanfaat terutama yang mendorong audiens untuk tetap mencari bantuan profesional, bukan menggantikannya.

Yang perlu dijaga adalah cara kita mengaksesnya misalnya menggunakan konten sebagai pintu masuk yang mendorong kita pergi ke dokter, bukan sebagai kesimpulan akhir. Kemudian perhatikan siapa yang berbicara apakah tenaga medis berlisensi atau sekadar orang awam yang ingin viral. Dari mana sumber datanya? Ingat, pengalaman pribadi seseorang tidak bisa dijadikan acuan medis bagi orang lain.

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 363 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru

Advertorial

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 Sep 2026 - 20:11 WITA