Oleh: Florentina Ina Wai
DI TENGAH hiruk-pikuk dunia digital yang kian menuntut kesempurnaan, remaja Indonesia saat ini sering kali terjebak dalam perang batin melawan rasa tidak percaya diri dan kecemasan akan masa depan.
Layar ponsel yang menyala hingga larut malam bukan lagi sekadar jendela informasi, melainkan medan tempur psikologis di mana perbandingan sosial dan standar kecantikan semu terus menghakimi jiwa-jiwa muda.
Di titik lelah ini, kita membutuhkan sebuah pegangan dasar yang mampu mengembalikan jati diri ke tempat yang paling tenang. Secara mengejutkan, jawaban atas kegelisahan modern tersebut tersimpan dalam lirik lagu klasik Melayu, ‘Seroja’.
Seroja di sini tidak hanya menjadi nada nostalgia, tetapi juga sebuah ‘panduan psikologis’ tentang cara menjaga kewarasan dan resiliensi di tengah “lumpur” kehidupan yang penuh tekanan.
Gagasan paling mendalam dari lagu Seroja yang relevan bagi remaja Indonesia saat ini adalah konsep Resiliensi melalui Metafora Bunga Seroja, yakni kemampuan untuk tetap tumbuh suci dan bermartabat meski berada di lingkungan yang sulit.
Di tengah gempuran media sosial yang sering kali menciptakan standar hidup yang semu, lagu ini menawarkan perspektif psikologis tentang pentingnya memiliki ‘Internal Locus of Control’.
Artinya, remaja diajak untuk menyadari bahwa meskipun mereka tumbuh di tengah “lumpur” penderitaan, seperti keluarga yang tidak harmonis, perundungan, atau lingkungan sosial yang toksik, lingkungan tersebut tidak berhak menentukan identitas atau masa depan mereka.
Seperti bunga seroja yang mekar dengan kelopak bersih di atas air yang keruh, seorang remaja sebenarnya memiliki kekuatan mental luar biasa untuk memisahkan diri dari pengaruh buruk di lingkungan sekitarnya.
Kemampuan resiliensi ini memungkinkan mereka untuk tidak membiarkan kegelapan pergaulan atau masalah hidup mengotori jati diri, melainkan justru menjadikannya pijakan untuk tetap memancarkan kebaikan.
Dengan menjaga kejernihan jiwa di tengah situasi yang sulit, mereka dapat terus tumbuh secara positif dan membuktikan bahwa prestasi sejati lahir dari keteguhan hati untuk tidak menyerah pada keadaan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










