Remaja Kita, Lumpur Derita dan Bunga Seroja - FloresPos Net

Remaja Kita, Lumpur Derita dan Bunga Seroja

- Jurnalis

Senin, 12 Januari 2026 - 11:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

DI TENGAH hiruk-pikuk dunia digital yang kian menuntut kesempurnaan, remaja Indonesia saat ini sering kali terjebak dalam perang batin melawan rasa tidak percaya diri dan kecemasan akan masa depan.

Layar ponsel yang menyala hingga larut malam bukan lagi sekadar jendela informasi, melainkan medan tempur psikologis di mana perbandingan sosial dan standar kecantikan semu terus menghakimi jiwa-jiwa muda.

Di titik lelah ini, kita membutuhkan sebuah pegangan dasar yang mampu mengembalikan jati diri ke tempat yang paling tenang. Secara mengejutkan, jawaban atas kegelisahan modern tersebut tersimpan dalam lirik lagu klasik Melayu, ‘Seroja’.

Seroja di sini tidak hanya menjadi nada nostalgia, tetapi juga sebuah ‘panduan psikologis’ tentang cara menjaga kewarasan dan resiliensi di tengah “lumpur” kehidupan yang penuh tekanan.

Baca Juga :  Menata Arah Pendidikan dengan Pikiran Strategis

Gagasan paling mendalam dari lagu Seroja yang relevan bagi remaja Indonesia saat ini adalah konsep Resiliensi melalui Metafora Bunga Seroja, yakni kemampuan untuk tetap tumbuh suci dan bermartabat meski berada di lingkungan yang sulit.

Di tengah gempuran media sosial yang sering kali menciptakan standar hidup yang semu, lagu ini menawarkan perspektif psikologis tentang pentingnya memiliki ‘Internal Locus of Control’.

Artinya, remaja diajak untuk menyadari bahwa meskipun mereka tumbuh di tengah “lumpur” penderitaan, seperti keluarga yang tidak harmonis, perundungan, atau lingkungan sosial yang toksik, lingkungan tersebut tidak berhak menentukan identitas atau masa depan mereka.

Baca Juga :  Waspada Gigitan Hewan Penular Rabies pada Anak

Seperti bunga seroja yang mekar dengan kelopak bersih di atas air yang keruh, seorang remaja sebenarnya memiliki kekuatan mental luar biasa untuk memisahkan diri dari pengaruh buruk di lingkungan sekitarnya.

Kemampuan resiliensi ini memungkinkan mereka untuk tidak membiarkan kegelapan pergaulan atau masalah hidup mengotori jati diri, melainkan justru menjadikannya pijakan untuk tetap memancarkan kebaikan.

Dengan menjaga kejernihan jiwa di tengah situasi yang sulit, mereka dapat terus tumbuh secara positif dan membuktikan bahwa prestasi sejati lahir dari keteguhan hati untuk tidak menyerah pada keadaan.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 116 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA