Selain itu, lagu ini menjadi instrumen untuk melakukan ‘Cognitive Reframing’ atau pengubahan sudut pandang terhadap rasa tidak percaya diri (insecurity) yang kerap menghantui jiwa muda.
Dengan lirik yang mengingatkan agar rupa yang elok tidak dimanja, Seroja mengajak remaja untuk melepaskan diri dari beban ‘Imaginary Audience’, perasaan seolah-olah seluruh dunia terus menatap dan menghakimi kekurangan fisik mereka.
Dalam psikologi, ini adalah bentuk unconditional self-acceptance atau penerimaan diri tanpa syarat, di mana harga diri seseorang tidak lagi digantungkan pada pujian orang lain atau standar kecantikan yang fana.
Dengan berhenti “memanjakan” citra diri yang dangkal, remaja dapat membebaskan diri dari kecemasan eksistensial dan mulai fokus pada pengembangan kedalaman jiwa.
Pada akhirnya, gagasan tentang dunia sebagai “pinjaman” dalam lagu ini berfungsi sebagai obat penenang atau Existential Healing bagi fenomena burnout dan kecemasan akan kegagalan yang banyak dialami generasi saat ini.
Ketika segala pencapaian, popularitas, dan materi dipandang hanya sebagai titipan sementara, tekanan untuk memiliki dan mempertahankan segalanya secara kaku akan luruh dengan sendirinya.
Perspektif ini memberikan ruang bagi remaja untuk bernapas lebih lega dan menjalani hidup dengan lebih ikhlas.
Seroja mengajarkan bahwa menjadi pribadi yang tangguh bukan berarti tidak tersentuh oleh masalah, melainkan kemampuan untuk menjaga “putihnya kelopak jiwa” agar tetap tegak dan jernih, meskipun hidup harus dijalani di tengah riuhnya tuntutan dunia yang sering kali tidak masuk akal. *
Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende
Halaman : 1 2










