MAUMERE, FLORESPOS.net-Seorang anak muda di Kota Maumere, Kabupaten Sikka yang selama ini bekerja sebagai kontraktor menangani berbagai proyek dari pemerintah harus beralih profesi untuk sementara waktu.
Dampak efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat menyebabkan proyek pembangunan di daerah pun berkurang jauh sehingga banyak kontraktor yang tidak mendapatkan pekerjaan.
“Sudah 5 belum saya bertani dengan memanfaatkan lahan kosong milik tetangga untuk menanam berbagai jenis hortikultura,” sebut Benny Pongoh saat ditemui di kebunnya, Jumat (31/7/2026).
Benny mengatakan, lahan dengan panjang 30 meter dan lebar 25 meter tersebut ditanami berbagai jenis sayur seperti kangkung, sawi, bayam serta cabai dan jagung dengan sistem tumpeng sari.
Ia menjelaskan, dengan sistem tersebut maka dalam satu lahan sekali panen bisa mendapatkan berbagai jenis hasil panen untuk dijual ke tetangga sekitar rumah dan warga di kelurahannya yang datang membeli langsung di kebun.
“Biasanya tetangga sekitar rumah dan warga di kelurahan saya datang langsung membeli di kebun.Saya juga mempromosikan melalui media sosial sehingga bayak yang memesan,” ungkapnya.
Benny mengaku fokus bertani sejak 5 bulan terakhir karena pekerjaan proyek dari pemerintah sudah jarang sekali didapat sehingga dirinya harus banting setir menjadi petani.
Ia mengatakan harus menyelamatkan ekonomi keluarga sehingga kembali bertani sebab dulunya dirinya pun menjadi petani hortikultura di sela-sela kegiatan mengerjakan berbagai proyek.
“Terakhir terakhir ini kami tidak mendapatkan pekerjaan sehingga saya harus banting setir menjadi petani. Bila hasil panen banyak maka isteri menjualnya di Pasar Alok Maumere,” ucapnya.
Benny mengaku mengusung konsep pertanian organik sehingga dirinya membuat puuk organik sendiri dari aneka dedaunan dan kotoran ternak untuk dipergunakan di kebun hortikulturanya.
Dirinya pun menggunakan air dri sumur bor untuk menyirami tanaman dan lahan kebunnya dipagari dengan pohon reo dan kelor sehingga daunnya bisa dipergunakan untuk sayuran dan pakan ternak dan bahan baku pupuk organik.
“Saya menggunakan pupuk organik karena saya tidak ingin meracuni orang dengan sayuran yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia.Banyak yang bilang sayur dari kebun saya rasanya beda,” tuturnya.
Selain mengelola kebun di dekat rumah,dirinya pun mengelola 3 lahan lainnya I sebelah selatan rumahnya dengan ukuran serupa dimana satu lahan milik Gereja Katolik.
Lahan milik gereja tersebut dimanfaatkan berama umat Katolik lainnya di Komunitas Basis Gereja (KBG) di lingkungannya sebab saat pertemuan banyak keluarga yang mengeluhkan tentang kesulitan ekonomi.
Lahan tersebut sudah dibajak dan dibuatkan bedeng yang rencananya akan ditanami 150 pohon pepaya California pada haris Senin (3/8/2026) mendatang.
“Nanti hasil panen pepaya di kebun tersebut akan dipergunakan untuk membantu biaya pendidikan umat di KBG kami. Nanti kerjanya pun kami sama-sama. Saya sudah bibit dan hari Senin nanti kami akan tanam,” ungkapnya.
Benny menambahkan, dua lahan lainnya akan dia tanami dengan semangka dan pepaya California untuk bisa menyuplay kebutuhan dapur Sentra Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia sudah berbicara dengan pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga nanti kedepannya saat panen sudah bisa dikirim ke dapur-dapur MBG yang ada di Kota Maumere.
“Saya sudah koordinasi dengan beberapa teman yang mengelola dapur MBG.Saat ini karena stok kami sedikit maka nanti saat musim panen berikut kami akan supply dapur MBG untuk pepaya dan semangka,” tuturnya.
Yuvensia seorang pelanggan yang tinggal tidak jauh dari kebun hortikultura milik Benny terlihat datang membeli sayur kangkung untuk dikonsumsi anggota keluarganya.
Dirinya mengaku setiap hari selalu datang membeli sayuran di kebun milik Benny karena selain lokasinya dekat rumahnya, sayurannya pun segar karena langsung dipanen saat dirinya membeli.
“Sayurannya pun segar karena langsung dipanen di kebun dan rasanya lebih enak karena sayurannya organik. Saya setiap hari pasti datang membeli sayuran di kebun ini,” ungkapnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










