Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur - FloresPos Net

Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur

- Jurnalis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur. (Istimewa)

Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur. (Istimewa)

BORONG, FLORESPOS.net-Obyek wisata unik berada di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Obyek wisata itu adalah dua batu unik berbentuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

“Obyek wisata unik dua batu ini terletak di puncak bagian Timur Gunung Poco Ndeki. Sekitar 1,2 Km dari Kampung Sere,” ungkap Marsel Ando, salah satu warga Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Sabtu (25/7/2026).

“Dua batu unik ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ini menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Manggarai Timur,” tambah dia.

Marsel mengatakan, mendaki Gunung Poco Ndeki sangat menggoda dan menantang adrenalin.

Pendakian menuju puncak Gunung Poco Ndeki dimulai dari Kampung Sere, Kisol di Kelurahan Tanah Rata, persis 10 km di sebelah timur Borong, ibukota Manggarai Timur.

Pendakian menuju puncak Poco Ndeki melewati kebun kopi dan kakao milik warga setempat. Jalan yang dilalui cukup landai.

Namun memasuki kawasan hutan, pendakian sesungguhnya dimulai. Jalan setapak tampak curam dengan kemiringan hingga 45 derajat melewati hutan yang cukup rimbun.

Pendakian menuju puncak Poco Ndeki membutuhkan waktu sekitar 2 jam dan menempuh jalur pendakian sejauh 3 km.

Disarankan sebelum pendakian agar melakukan persiapan fisik terlebih. Mengenakan sepatu dan pakaian yang nyaman dan aman untuk outdoor adventure.

Pastikan juga mendaki pada saat musim kemarau atau sedang tidak turun hujan karena hutan yang dilalui cukup lembab dan licin pada saat musim hujan.

“Jangan lupa membawa air mineral secukupnya untuk keperluan anda selama pendakian sehingga terhindar dari dehidrasi,” kata Marsel.

Suhu udara di puncak Poco Ndeki cukup dingin. Namun semua pengorbanan terbayar dengan menikmati keindahan panorama alam dari Puncak Poco Ndeki

Marsel bilang, walaupun belum semuanya ditata dan disentuh dengan program pembangunan fisik seperti jalan menuju lokasi obyek wisata, namun sudah banyak wisatawan khususnya mancanegara yang datang berkunjung ke obyek wisata ini.

Baca Juga :  Wabup Manggarai Timur: Penting Pedoman Dalam Penanganan Bencana

Batu unik berbentuk seperti kelamin laki-laki itu berdiri tegak di atas permukaan tanah, dan dalam bahasa lokal batu itu disebut Watu Embu Haki.

Sementara batu berbentuk seperti kelamin wanita terdapat dalam sebuah gua kecil, dan disebut Watu Embu Kodi Fai. Letak dua batu ini terpisah satu sama lain sekitar 100 meter.

Batu ini menyerupai phalus yang berdiri tegak dengan ukuran tinggi dari permukaan tanah sekitar 30 cm dan diameter 15 cm.

Uniknya Batu Laki laki ini bisa digoyang goyang ke segala arah namun sangat kokoh dan tidak bisa dicabut.

Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur. (Istimewa)

Sementara Watu Embu Kodi Fai berada di sebelah utara puncak Poco Ndeki dan terletak di dalam gua batu yang tidak terlalu dalam.

Uniknya lagi pada Watu Embu Kodi Fai, permukaan batu membentuk sudut segi tiga. Selalu basah dan berair meski batu ini berada dalam gua kering dan tidak terkena rembesan air hujan atau embun.

Ritual Meminta Hujan

Marsel mengatakan, sejak dahulu apabila terjadi musim kemarau berkepanjangan, mereka melakukan ritual unik yaitu mendatangi kedua batu tersebut lalu memberi sesajian berupa telur ayam, beras merah, sirih dan pinang, serta tembakau untuk meminta hujan.

Watu Embu Kodi Fai berada dan lubang tersebut dipercaya sebagai liang peranakan dan rahim wanita sebagai sumber kesuburan.

Mereka meyakini bahwa apabila ujung kayu yang telah ditusukan itu basah, maka dalam waktu 2 atau 3 hari lagi hujan akan turun.

Sebaliknya, apabila ujung kayu tersebut kering, maka dalam beberapa saat setelah acara tersebut hujan akan turun.

Yang menarik dari rangkaian upacara ini bahwa setelah upacara ini dilakukan semua orang yang ikut upacara ini tidak boleh langsung kembali ke kampung dan melewati jalan yang sama saat mereka mendaki, melainkan harus terlebih dahulu pergi mandi di laut dan harus turun melewati jalan baru.

Baca Juga :  Panen Raya Jagung, Bupati Nagekeo Apresiasi Dukungan Polres

Pada saat mandi di laut, semua orang harus bertelanjang untuk menyucikan diri. Mereka percaya apabila rangkaian tradisi dan upacara ini dilanggar maka akan memperoleh musibah atau kutukan dan hujan yang dinanti nantikan tidak akan turun.

Flora, Fauna dan Bekas Kampung Tua

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Timur, Rofinus Hibur Hijau mengatakan upaya pengembangan telah dilakukan pemerintah melalui dinas untuk meningkatkan daya tarik dan kunjungan wisatawan ke obyek wisata tersebut.

Salah satunya dengan melakukan pembangunan setapak, promosi dan publikasi terus dilakukan untuk mendorong minat wisatawan mengunjunginya.

“Sejauh ini sudah cukup banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang datang mengagumi keunikan kedua batu ini dan keindahan kawasan hutan Poco Ndeki,” katanya.

Dia mengatakan Gunung Poco Ndeki menawarkan wisata petualangan yang menarik dan menantang. Memiliki hutan tropis yang sangat rimbun dan kaya akan varietas flora dan fauna.

Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur. (Istimewa)

Hutan di Poco Ndeki merupakan habitat beberapa jenis burung langka seperti Belibis, Elang Flores, Kakatua, Nuri, Peregam, Maleo dan Srigunting yang disebut Lawe Lujang dan memiliki ekor panjang dan corak warna menarik, kicauan yang merdu.

Selain memiliki keindahan flora dan fauna, kata dia, Gunung Poco Ndeki juga memilik daya tarik wisata budaya yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan menanti wisatawan untuk mengunjunginya.

Di lereng Gunung Poco Ndeki terdapat situs bekas kampung tua peninggalan warga Suku Motu yang saat ini mendiami wilayah Kampung Kisol dan Sere di Kelurahan Tanah Rata. Situs bekas kampung tua ini disebut Rene.

Di sana kata Rofinus, masih tertinggal beberapa gundukan batu berbentuk tempat persembahan kepada leluhur atau dalam bahasa Manggarai disebut compang.

“Juga beberapa tanaman yang dulu mereka tanam seperti kopi, kemiri, kelapa, jeruk, dan belimbing masih tetap hidup,” katanya. *

Penulis : Albert Harianto

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo
Partai Golkar Gandeng Bank NTT Sosialisasi Penyaluran KUR Bagi Pelaku UMKM
Kedubes Inggris Kunjungi Pos SAR Manggarai Barat
SD Inpres Gere Menjuarai Lomba Bertutur Tingkat SD di Kabupaten Sikka
Petugas Parkir dan Supir Berikan Penjelasan Terkait Peristiwa di Bandara Ende
Febrianus Laporkan Para Pelaku ke Polisi Usai Dikeroyok di Ruang KP3 Bandara Ende, Ini Kronologisnya
Upacara HUT Kemerdekaan RI ke -81 di Ende Dipusatkan di Stadion Marilonga
Bupati Sikka Buka Lomba Bertutur Tingkat SD/MI, Dorong Penguatan Literasi dan Sains Sejak Usia Sekolah
Berita ini 1,902 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:03 WITA

Listrik, Jalan, dan Sinyal: Harapan dari Ujung Desa Tenda-Ondo

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:24 WITA

Partai Golkar Gandeng Bank NTT Sosialisasi Penyaluran KUR Bagi Pelaku UMKM

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:50 WITA

Kedubes Inggris Kunjungi Pos SAR Manggarai Barat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:46 WITA

SD Inpres Gere Menjuarai Lomba Bertutur Tingkat SD di Kabupaten Sikka

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:26 WITA

Petugas Parkir dan Supir Berikan Penjelasan Terkait Peristiwa di Bandara Ende

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Kedubes Inggris Kunjungi Pos SAR Manggarai Barat

Kamis, 13 Agu 2026 - 14:50 WITA