MAUMERE, FLORESPOS.net-Seorang petani hortikultura di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakui adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Presiden Prabowo tidak banyak memberikan dampak kepada petani.
Dirinya mengeluhkan banyaknya pengelola dapur Sentra Pelayanan dan Pemenuhi Gizi (SPPG) di Kabupaten Sikka masih membeli semangka dari luar Kabupaten Sikka meskipun harga jual dari petani di Sikka masih dibawah harga standar.
“Masih banyak pengelola dapur MBG yang membeli semangka dari Sulawesi dan Pulau Jawa padahal persediaan semangka di Kabupaten Sikka mencukupi,” sebut Yance Maring, petani milenial irigasi tetes saat ditemui di kebunnya, Sabtu (1/8/2026).
Yance mengatakan, pihaknya menjual semangka aneka jenis dengan harga Rp10 ribu per kilogramnya sementara harga beli dari dapur MBG berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kilogramnya.
Ia mengakui dari harga jual maka seharusnya pengelola dapur MBG membeli langsung semangka dari tangan petani karena harga jualnya masih dibawah harga patokan di dapur MBG.
“Kalau mereka tidak beli langsung dari petani dan membeli di Pasar Alok pun harganya masih di bawah standar karena harga jual per kilogramnya masih dibawah Rp15 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Yance mengakui dirinya memiliki lahan semangka seluas 2 hektar lebih yang ditanami berbagai jenis semangka dan stoknya selalu tersedia karena setiap minggu melakukan pemanenan.
Dirinya berharap agar pemerintah bisa meminta pengelola dapur MBG untuk membeli semangka di petani hortikultura yang ada di Kabupaten Sikka dibandingkan dengan membeli dari luar Provinsi NTT.
“Kalau mereka membeli di petani yang ada di Kabupaten Sikka maka tentu saja uangnya akan berputar di daerah ini. Kecuali kalau stok semangka di petani disini tidak ada,” ucapnya.
Yance mengaku selalu menyuplai semangka untuk kebutuhan beberapa dapur MBG baik di Kabupaten Sikka maupun di Kabupaten Flores Timur dan stoknya pun masih tersisa banyak.
Ia mengatakan para petani hortikultura awalnya sangat senang sebab dengan adanya MBG tentunya akan memberikan tambahan pendapatan bagi petani hortikultura namun kenyataannya belum ada dampak signifikan bagi petani.
“Harusnya pengelola dapur MBG membeli langsung produk hortikultura dari petani-petani di daerahnya supaya bisa memberikan peningkatan pendapatan bagi petani dan para pekerjanya,” tuturnya.
Yance juga mengaku banyak petani hortikultura di Kabupaten Sikka siap menyuplai kebutuhan dapur MBG yang ada di wilayah ini apabila ada permintaan pasokan secara rutin.
Ia menegaskan, kebutuhan sayur-sayuran, tomat, lombok dan semangka mencukupi dan tersedia kecuali buah-buahan seperti jeruk, apel dan lainnya yang tidak ditanam di Kabupaten Sikka.
“Kami siap menyuplai kebutuhan dapur MBG apabila diperlukan. Bahkan kami siap memasok secara rutin bila ada kerjasama antara pengelola SPPG dan para petani,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










